Rusak Kepercayaan, Koperasi Abal-abal Wajib ”Diberantas”

40

Dalam era teknologi saat ini, banyak pertumbuhan  pelaku usaha yang bersaing tidak sehat di tengah-tengah masyarakat. Kehadiran usaha abal-abal alias bodong selain akan merusak tatanan persaingan juga dalam aktivitasnya sering membohongi masyarakat. Di sektor koperasi, pemerintah wajib pasang mata dan telinga untuk mengantisipasi tidak ada koperasi yang abal-abal. Lantas apa yang harus dilakukan?

PENGAMAT ekonomi, I Putu Dirgayusa, S.E., M.M. menyatakan, dalam era pasar bebas tingkat ASEAN sudah terjadi persaingan usaha yang cukup berat bagi pelaku usaha Indonesia, khususnya Bali. Dengan banyaknya barang produksi luar Bali masuk dan harganya cukup bersaing. Tak hanya itu, banyak tenaga kerja bebas masuk membuka usaha dengan persiapan modal besar sehingga pelaku usaha kita keteter. Belum lagi ada pelaku usaha yang seenaknya membuka usaha tanpa memproses legalitas sebelumnya. Mereka dengan leluasa mengajak masyarakat berinvestasi, selanjutnya tidak bisa dipastikan akan merugikan atau menguntungkan.

”Bali saat ini memang menjadi tujuan untuk meraup keuntungan bagi pelaku usaha, terutama pelaku usaha luar Bali yang menarik keuntungan di Bali, kemudian dibawa ke tempat asalnya. Jika usaha yang dibuat legal ya tidak masalah. Namun banyak pelaku usaha mencari keuntungam tanpa legalitas, bahkan cenderung akan merugikan masyarakat. Setelah banyak uang yang didapat, mereka lantas  akan kabur begitu saja. Kejadian seperti itu sudah sering terjadi. Agar tidak ada koperasi abal-abal, Dinas Koperasi harus kooperatif menyerap informasi. Bila perlu, ada tenaga khusus yang langsung survai ke lapangan sehingga aktivitas koperasi abal-abal tidak berkepanjangan dan akhirnya banyak juga yang akan dirugikan,” tegasnya.

Pemerhati dan sekaligus praktisi koperasi, I Ketut Widartha, S.E. menyebutkan, banyak koperasi yang beroperasi di Bali dapat merusak image koperasi sehat. Belakangan ini koperasi di Bali sudah mendapat kepercayaan masyarakat. Maka itu, koperasi abal-abal sangat perlu ditertibkan. ”Kami sangat berharap instansi terkait bertindak tegas kepada koperasi yang belum memiliki legalitas, terutama koperasi yang datang dari luar Bali dan membuka kantor di Bali. Seharusnya tidak ada koperasi yang sudah memiliki izin pusat, dan membuka kantor cabang tidak memiliki izin. Itu aneh, karena sudah ada aturannya, dan pengurus koperasi sudah tahu. Jika memang ditemukan unsur kesengajaan tidak mengurus legalitas, koperasi bersangkutan perlu dicurigai,” harapnya sambil mengatakan, semestinya tidak ada koperasi yang membuka cabang sebelum izin keluar. Paling tidak melapor terlebih dahulu, baru buka kantor operasional.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, I Gede Indra, S.E., M.M. menegaskan, memang ada beberapa koperasi yang merupakan kantor cabang dari kota lainnya di Bali yang belum mengantongi izin cabang sudah beroperasi. Karena mengetahui informasi tersebut, dinas segera melakukan pantauan di lapangan. ”Kalau memang benar informasi tersebut, kami langsung menindak dengan cara menyegel sementara sampai pihak koperasi bersangkutan mengurus izin sesuai aturan. Jika kami mengetahui ada koperasi abal-abal dan memiliki program di luar izin koperasi, dengan tegas akan ditutup. Tindakan tegas sudah sering kami lakukan pada koperasi yang nakal,” tegasnya sambil berharap masyarakat yang menjadi gawang terakhir agar menjadi informan dan langsung memberikan informasi ke dinas masing-masing.

Hal senada diungkapkan Kadis Koperasi dan UMKM Kota Denpasar, Made Erwin Suryadarma Sena, S.E., M.Si. Citra koperasi wajib diselamatkan. Jangan sampai kepercayaan masyarakat menurun lagi. Belakangan ini masyarakat sudah meningkatkan perannya mendukung koperasi. Misalkan menjadi anggota koperasi yang aktif, makin banyak yang ikut menjadi anggota dan terbukti dalam kondisi ekonomi lesu sekarang ini koperasi tetap berkembang.

”Kami bersyukur koperasi terus berkembang. Untuk itu, kami akan jaga koperasi yang sehat dari koperasi abal-abal sehingga image tetap terjaga. Kepercayaan sangat penting membentuk image,” harap Erwin. *sta