PADA musim tanam palawija ini, sebagian besar petani memilih menanam kacang hijau ketimbang kedelai. Meski dari cara budi daya hampir sama, dari segi pemasaran disinyalir lebih mudah dilakukan.

Nengah Kersa, petani di Desa Pererenan, Mengwi, Badung memilih menanam kacang hijau karena luas lahan yang dimiliki tergolong sempit. “Saya menanam kacang hijau di lahan 11 are. Kalau saya tanami kedelai, hasilnya sedikit jadi susah untuk pemasaran. Karena kacang hijau, hasilnya bisa saya jual di warung-warung,” tuturnya.

Kacang hijau termasuk tanaman tropis yang membutuhkan sinar matahari yang cukup. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik di daerah dataran rendah hingga ketinggian 500 m DPL. Tanaman kacang hijau dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah yang banyak mengandung bahan organik, dengan drainase yang baik.

Tanaman kacang hijau dapat ditanam di lahan sawah maupun lahan kering (tegalan). Apabila lahan yang digunakan merupakan lahan sawah, tanah tidak perlu diolah terlebih dahulu. Penyiapan lahan sebaiknya dilakukan 2 minggu seusai panen padi.

“Untuk menanam kacang hijau ini, saya tidak melakukan pengolahan tanah dan langsung menaburkan bibit di lahan sawah yang sudah di panen. Untuk lahan 11 are ini saya menghabiskan 1,5 kg bibit, tetapi sebenarnya 1 kg saja sudah cukup,” ungkapnya. Karena makin jarang tanaman kacang hijau, kualitas bulir kacang hijau akan makin baik. Dikatakan, harga bibit Rp 22 ribu per kilogram.  (pur)