Menjelang Galungan dan Kuningan yang jatuh pada akhir Mei ini, harga pakan produksi pabrik mengalami lonjakan. Hal ini sebagai dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Walau begitu, sejumlah peternak babi di Bali tetap sumringah. Apa penyebabnya?

JELANG Galungan dan Kuningan yang biasanya dibarengi dengan meningkatnya permintaan pasar akan babi, para pelaku usaha di sektor ini malah dihadapkan pada makin mahalnya biaya produksi khususnya pakan pabrikan. Sejak beberapa minggu terakhir, harga pakan babi ini tengah naik di kisaran Rp7.500-Rp 10.000 per sak (50 kg). Tentunya, kondisi tersebut membuat biaya produksi yang harus ditanggung peternak makin mahal saat ini.

Menariknya, di tengah lonjakan biaya produksi tersebut, sejumlah peternak babi di Bali justru bergembira. Kondisi tersebut terjadi seiring dengan harga jual babi di tingkat peternak yang mengalami lonjakan setelah sekian lama berada di kisaran murah sebagai dampak isu maningitis yang sempat merebak pada momen Galungan dan Kuningan beberapa tahun lalu.

Wakil Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi (Gubi) Bali Nyoman Ariadi mengungkapkan, saat ini harga jual babi cukup menggembirakan di tengah melonjaknya biaya produksi. Paparnya, harga babi untuk kualitas super termasuk untuk pengiriman antarpulau produksi peternak on farm (peternak intensif) berada di kisaran Rp 32 ribu per kg atau naik dari kondisi Rp 28 ribu per kg sebelumnya. Sementara untuk harga babi hasil ternak masyarakat (peternak kerakyatan) berada di kisaran Rp 28-Rp 29 ribu per kg atau naik dari kisaran Rp 24 ribu per kg sebelumnya.

Jelas Ariadi, lonjakan biaya produksi dan naiknya harga jual babi di pasaran, memang memberi dampak yang menggembirakan bagi peternak menjelang Galungan dan Kuningan ini, sedangkan untuk besaran keuntungan yang dinikmati tidak sama antara peternak on farm dengan peternak kerakyatan. Sebab paparnya, untuk peternak babi di level peternak rakyat yang dominan mengadopsi pakan asalan (sisa limbah rumah tangga), memang dari segi biaya produksi yang dikeluarkan kecil, namun ketika dibeli oleh tukang jagal harganya lebih murah dibandingkan hasil ternak produksi peternak intensif yang dominan menggunakan pakan pabrikan. Sebab, kualitas produksi babi yang dihasilkan berbeda. (man)