Wabup Suiasa Buka Paruman Sulinggih

75
istPARUMAN - Wabup Suiasa didampingi Wakil Ketua DPRD I Made Sunarta saat membuka Paruman Sulinggih, Minggu (29/4) kemarin bertempat di ruang pertemuan Kriya Gosana Pusat Pemerintahan Mangupraja Mandala.

Mangupura (Bisnis Bali) – Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Badung melaksanakan Paruman Sulinggih, Minggu (29/4) kemarin bertempat di ruang Pertemuan Kriya Gosana Pusat Pemerintahan Mangupraja Mandala. Acara ini dibuka Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa didampingi Ketua Dharma Upapati Ida Pedanda Gede Ketut Putra Timbul, Wakil Ketua DPRD Badung I Made Sunarta, Ketua PHDI Badung Gede Adi Rudia Adiputra, Ketua WHDI Badung Ny. Isyudayani Astika, Kabid Dinas Kebudayaan Ida Bagus Agung serta para sulinggih se-Badung.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa memberikan apresiasi dan menyampaikan, Paruman Sulinggih dilaksanakan untuk dapat menyatukan persepsi dan pemaknaan dari kebenaran pelaksanaan agama Hindu. Dikatakan, dalam agama Hindu ada 3 kerangka inti pokok, tatwa, susila dan upacara yang merupakan sebuah sistem yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. “Kaitannya dengan ini perlu dikomunikasikan, dikoordinasikan begitu penting dan strategis sekali kalau dikaitkan dengan pelaksanaan agama Hindu di masyarakat dalam penerjemahan disesuaikan lingkungan, desa kalapatra, desa mawacara, akan tetapi jangan sampai dinamisasi menyalahi konsep 3 dasar tatwa, susila, upacara,” ungkapnya.
Berkaitan dengan paruman sulinggih yang mengambil materi Pitra Yadnya sekala kecil (ngaben alit) hal ini sangat penting, yakni masih adanya masyarakat yang belum memiliki pemahaman melalui paruman sulinggih ini dapat kiranya menghasilkan pemahaman dan persepsi yang sama. “Persepsi ini nantinya disosialisasi, disebarluaskan di masyarakat sehingga benar-benar pelaksanaan kegiatan upacara agama menjadi baik, benar, dan sesuai dengan tatwa, susila dan upakara, dan sesuai dengan kemampuan masyarakat yang melakukan kegiatan upakara upacara,” jelasnya.
Lebih lanjut Suiasa mengharapkan, di dalam pelaksanaannya agama Hindu yang dinamis agama memberikan fleksibelitas yang bukan berarti kebebasan, fleksibel yang diartikan disesuaikan dengan keadaannya tanpa mengurangi makna upacara dimaksud dengan kegiatan paruman ini akan menghasilkan keputusan dan persamaan persepsi yang nantinya dijadikan dasar di dalam pelaksanaan upacara di Kabupaten Badung.

Sementara itu Ketua Harian PHDI Kabupaten Badung I Gede Rudia Adiputra melaporkan, latar belakang dilaksanakannya paruman sulinggih dikaitkan dengan upacara ngaben alit/ngaben kanista yang sadwika adalah pemikiran pemikiran umat Hindu yang ingin beragama benar dan efektif, pemahaman terhadap desa kalapatra masih kurang sinkron sehingga dengan demikian berdampak sangat berat bagi masyarakat yang melaksanakan upacara. Diharapkan hasil dari paruman ini dapat dijadikan tolak ukur dalam melaksanakan upacara Pitra Yadnya di Kabupaten Badung. (ad 0.497)