Tekan NPL, BPR Nusamba Gelar Pelatihan Analisa Kredit

36
 PELATIHAN - Karyawan BPR Nusamba Mengwi dan BPR Nusamba Tegalalang foto bersana di sela-sela pelatihan analisa kredit bertempat di Hotel Neo.

Denpasar (Bisnis Bali) – Guna menekan kredit bermasalah (NPL), BPR Nusamba Mengwi dan BPR Nusamba Tegalalang menggelar pelatihan analisa kredit bertempat di Hotel Neo, Sabtu (28/4). Pelatihan yang diikuti karyawan di bagian kredit sampai setingkat direksi guna makin mempertajam kemampuan dalam menganalisa kredit.

Direktur Utama BPR Nusamba Tegalalang, Made Suwitrayasa mengatakan, perlambatan ekonomi cenderung berdampak pada penurunan kemampuan usaha debitur. Hal ini berimbas penurunan kemampuan nasabah kredit BPR dalam membayar angsuran kredit.

Ia menjelaskan, di bagian lain BPR dihadapkan masalah dana idle sehingga BPR wajib memiliki strategi yang lebih tajam dalam melakukan analisa kredit. Melalui pelatihan analisa kredit ini diberikan strategi yang lebih jitu untuk mengurangi angka NPL ketika BPR melakukan penyaluran kredit.

Direktur Utama BPR Nusamba Mengwi, Ni Made Ardini Yoni mengatakan, pelatihan analisa kredit ini akan dilaksanakan secara berkesinambungan. BPR Nusamba Mengwi dan Tegalalang akan terus mengadakan peningkatan kualitas karyawan bagian kredit. Mereka diharapkan bisa memberikan pembinaan kepada para debitur BPR Nusamba sehingga bisa tetap memenuhi kewajiban membayar angsuran kredit.

Penyaluran kredit mesti dilakukan selektif dengan prinsip kehati-hatian. Hal ini dengan proses analisa kredit untuk menekan risiko kredit bermasalah (NPL). “Diharapkan kredit yang disalurkan ke debitur BPR Nusamba menjadi sehat,” kata Ardini Yoni.

Komisaris BPR Nusamba, Ketut Komplit, saat pemaparan materi pelatihan mengatakan, analis kredit merupakan pilar utama untuk menjaga pendapatan BPR. Tren NPL yang makin meningkat, maka bagian analis kredit perlu mengetahui dan memperdalam pengetahuan dan keterampilan dalam menganalisa kredit. Hal ini untuk mencegah kredit bermasalah yang lebih berat.

Ia menjelaskan, kredit bermasalah akan mengurangi laba BPR. Melalui pelatihan, karyawan di bagian analisa kredit bisa bekerja dengan pengetahuan dan keterampilan yang bisa meyakinkan komite kredit dan pihak berwenang seperti direksi. Di bagian lain, kredit yang disalurkan bisa dikembalikan oleh debitur sesuai kesanggupan debitur.

Ketut Komplit memaparkan, dalam pelatihan analisa kredit dibedah dari sisi karakter calon debitur. Calon debitur memang betul-betul membutuhkan kredit dan menggunakan kredit sesuai dengan tujuannya.

Karyawan analis kredit diajarkan menghitung  kemampuan bayar debitur. Kemampuan bayar ini penting dilihat dari profil usaha. Debitur memiliki kemampuan bayar yang cenderung stabil dan meningkat.

Terakhir karyawan di bagian analis kredit harus mampu menganalisa dari sisi jaminan. Hal ini agar tidak sampai BPR diberikan jaminan yang tidak sesungguhnya. Karyawan analis kredit dituntut tidak salah melihat dan menafsirkan nilai jaminan debitur.

Ketut Komplit menambahkan, jika salah dalam proses penafsiran jaminan maka  penyelesaian kredit bisa terbentur jaminan yang sekarang nilainya cenderung menurun. Perlu diyakini, bemper terakhir penyelesaian kredit melalui penarikan dan penjualan jaminan kredit yang dijaminkam debitur. (ad 0.495)