Tumbuh Rp600 Miliar, LPD di Bali Beraset Rp19 Triliun

26
LAYANAN - Pelayanan kepada nasanah yang dilakukan di salah satu LPD di Kota Denpasar.  (wid)

Keberadaan lembaga perkreditan desa (LPD) sebagai lembaga keuangan milik masyarakat desa pekraman, selama ini dikatakan mampu menunjang perkonomian masyarakat. Hal tersebut dikarenakan keberadaan LPD menopang aktivitas masyarakat, terutama dalam melestarikan adat, budaya dan agama Hindu di Bali. Seperti apa perkembangannya?

BEBERAPA aktivitas masyarakat di Bali, khususnya yang dilaksanakan oleh desa pekraman telah banyak dibiayai oleh LPD, mulai dari piodalan (Dewa Yadnya), ngaben, nyekah (pitra yadnya) hingga aktivitas manusa yadna seperti metatah masal dan kegiatan sosial lainnya. Hal ini juga didukung oleh 20 persen dari laba LPD yang diserahkan kepada desa pekraman untuk kegiatan pembangunan fisik ataupun nonfisik, ditambah 5 persen yang diperuntukkan sebagai dana sosial, kembali diserahkan kepada masyarakat.

Dengan itu, pengurus LPD kian gencar mensosialisasikan keberadaan LPD yang merupakan milik masyarakat dengan keuntungan kembali ke masyarakat, sehingga masyarakat terus berkeinginan memanfaatkan LPD. Tak jarang pula berbagai kegiatan yang ditunjang oleh LPD dijadikan ajang promosi untuk menarik minat masyarakat menggunakan LPD.

Berdasarkan data dari Lembaga Pemberdayaan Lembaga Perkreditan Desa (LP-LPD) Provinsi bali, pada akhir Desember 2017, aset LPD se-Bali telah mencapai Rp 18,4 triliun dengan perolehan laba Rp 564 miliar. Dengan demikian, sumbangan dana pembangunan yang diberikan LPD ke desa pakraman yaitu mencapai Rp 100 miliar lebih. Selain itu, 5 persen dari laba LPD yang sekitar Rp 28 miliar juga dikembalikan kepada masyarakat untuk kegiatan sosial.  (wid)