Penanaman Tebu Giling Ubah Lahan Kering Jadi lebih Produktif

50

DI sektor pertanian, permasalahan penurunan produksi sering dialami sejumlah petani. Hal itu disebabkan oleh makin sempitnya luas lahan pertanian yang produktif. Karena itu, sejumlah petani pun mengambil alternatif yang diharapkan dapat meningkatkan potensi produksi tanaman dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan yakni pendayagunaan lahan kering.

Seperti halnya di Kabupaten Buleleng, sejumlah lahan kritis dan kering mulai mendapat perhatian dengan membudidayakan tebu giling di kawasan Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Selain untuk memenuhi kebutuhan akan gula yang kian meningkat serta menindaklanjuti audiensi PT Perkebunan Nasional (PTPN) XI PG Asem Bagus dengan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana juga suatu upaya pemanfaatan lahan kering yang ada di Kecamatan Gerokgak menjadi lahan yang produktif.

Hal itu diungkapkan Wakil Bupati Buleleng dr. Nyoman Sudjitra, Sp.,OG. Wabup usai mengikuti penanaman perdana tebu di Desa Penyabangan belum lama ini.

Ia menjelaskan, varietas tebu yang ditanam perdana ini adalah N.XI 1-3 di lahan seluas 3,8 hektar. Tercatat 6.000 sampai 6.500 mata tunas tebu dapat ditanam di areal seluas 1 hektar. Panen tebu dapat dilakukan pada usia tanam sembilan hingga 12 bulan dalam setahun. Untuk sekali tanam, tebu dapat dipanen empat kali, berarti satu kali masa tanam petani dapat memanen hingga empat tahun ke depan. Seratus ton tebu basah dihasilkan dari lahan seluas 1 hektar.

Antusias petani untuk budi daya tebu ini sangat luar biasa. Dari percontohan seluas 1.200 hektar, ada 2.000 hektar yang ingin membudidayakan tebu pada penanaman perdana. Pada tahap selanjutnya mencapai 5.000 hektar dari target yang sudah ditentukan. Ke depannya diharapkan pula ada pabrik gula di areal Kecamatan Gerokgak dengan areal perkebunan mencapai belasan ribu hektar. “Hal ini disebabkan lahan kritis yang ada mencapai 40.000 hektar. Kalau setengah saja, hal itu bisa men-support adanya pabrik gula yang baru,” terangnya. (ira)