Amlapura (Bisnis Bali) – Merosotnya nilai rupiah atau naiknya harga dolar AS, memberi andil yang mempengaruhi harga barang impor. Kenaikan harga sarana produksi peternakan, khususnya ayam ras pedaging dan telurnya, juga imbas dari kenaikan harga dolar. Sebab, banyak komponen pakan ternak ayam ras, masih diimpor dari luar negeri.

Hal itu disampaikan salah seorang peternak ayam petelur di Karangasem, I Nyoman Sumadi, S.E., Rabu (25/4) kemarin di Karangasem.

Menurut pria asal Desa Pesedahan, Manggis, Karangasem itu, bukan maunya peternak menaikkan harga daging ayam atau telur ayam ras agar mendapatkan keuntungan besar. Kenaikan harga produk peternakan itu, sebagai akibat biaya produksinya juga terus meningkat. Ditambah lagi karena suatu sebab, produksi daging atau pun telur ayam menurun atau persediaan produk terbatas dibandingkan dengan konsumsi yang cenderung terus meningkat. ‘’Harga dolar naik terus dan bahkan sudah hampir menyentuh Rp 14 ribu, tentunya akan berimbas kepada biaya produksi peternakan. Peternak saat ini tidak untung besar, tetapi baru bisa sebatas tersenyum, setelah sudah cukup lama hanya bertahan di peternakan,’’ papar Sumadi yang juga anggota DPRD Karangasem itu.

Dari pantauan di pasar, harga daging ayam ras berkisar Rp 40 ribu sampai Rp 60 ribu per kg. Sebelum ada kenaikan yang drastis, harga daging ayam ras berkisar Rp 32 ribu per kg. Sementara, telur ayam ras ukuran super saat ini berkisar Rp 38 ribu sampai Rp 42 ribu  per tray, sebelum kenaikan drastis berkisar Rp 35 ribu per tray.  Sebagai akibat kenaikan harga daging ayam ras, warga Karangasem belakangan banyak yang beralih menggunakan daging babi untuk konsumsi, seperti terkait upacara pernikahan yang banyak sejak bulan lalu. Harga daging babi relatif stabil atau murah berkisar Rp 28 ribu sampai Rp 35 ribu per kg. (bud)