Jadi Komoditi Ekspor Nelayan Lobster Yeh Gangga tak Nikmati Untung Pelemahan Rupiah

21
Jumlah tangkapan lobster nelayan Yeh Gangga menurun.  (man)

Tabanan (Bisnis Bali) – Menjadi salah satu penghasil komoditi ekspor, namun sejumlah nelayan lobster di pantai Yeh Gangga, Kabupaten Tabanan merasa tak diuntungkan di tengah kondisi pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang tengah menyentuh Rp 13.752,20 per dolar AS.

Betapa tidak, saat ini jumlah tangkapan lobster dikalangan nelayan tengah menurun atau memasuki musim paceklik.

Salah seorang suplayer lobster di Yeh Gangga Tabanan, Dewa Gede Ada Artana, di Tabanan, Selasa (10/4) mengungkapkan, semestinya dengan kondisi lobster sebagai salah satu komoditi ekspor dengan adanya pelemahan rupiah terhadap dolar AS, harusnya memberi dampak menguntungkan.

Sebab, nilai jual yang didapat akan lebih banyak dari sebelumnya. Namun akuinya, sekarang ini yang terjadi adalah di saat rupiah melemah tidak memberikan untung bagi para nelayan lobster, meski menjadi salah satu komoditi ekspor dengan pangsa pasar ke Tiongkok selama ini.

Jelas Gede Ada, tidak diuntungkannya dengan kondisi pelemahan rupiah ini karena memang untuk harga jual lobster di pasar internasional tetap atau tidak mengalami lonjakan saat ini. Di sisi lain, kondisi tersebut diperparah lagi dengan menurunnya produksi lobster ditingkat nelayan lokal, seiring dengan musim paceklik yang terjadi sekarang ini.

Katanya, saat ini rata-rata jumlah tangkapan lobster mencapai 5 kg per hari, menurun dari biasanya yang mencapai 100 kg per hari. Sementara harga lobster berada dikisaran Rp 270 ribu an per kg (tergantung jenis dan ukuran).

“Pangsa pasar ekspor untuk lobster ini sebenarnya terbuka lebar dengan meminta sepanjang tahun dengan jumlah yang tidak terhingga. Namun, karena kondisi paceklik, kondisi permintaan pasar ini menjadi tidak terpenuhi dengan maksimal sekarang ini,” tuturnya.(man)