Inflasi IMF lebih Kecil dari APEC

111
Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Causa Iman Karana

Denpasar (Bisnis Bali) – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bali dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali optimis inflasi pada pelaksanaan IMF & World Bank Annual Meeting di Pulau Dewata pada Oktober mendatang tidak akan lebih tinggi dari pengalaman saat menjadi tuan rumah APEC 2013. Saat APEC tingkat inflasi menembus 8,16 persen, sedangkan IMF-WB 2018 ini ditahan di level 3,5±1 persen.

Wakil Ketua TPID Bali Causa Iman Karana di Renon, Jumat (6/4) kemarin mengatakan, inflasi saat APEC 2013 lebih tinggi dari tahun sebelumnya di kisaran 4,71 persen. Inflasi yang terjadi kendati tidak dapat dipastikan penyebabnya dari kegiatan APEC, tetap saja kondisi tersebut menjadi perhatian serius agar tidak terulang kembali pada ajang internasional yang melibatkan 15.000 orang delegasi dari 189 negara pada Oktober mendatang.

“Untuk itu antisipasi lonjakan inflasi seiring IMF-WB perlu ditekan, terutama yang disumbangkan dari sektor makanan, transportasi dan lainnya,” katanya.

Menurutnya, pasokan kebutuhan makanan selama pelaksanaan IMF-WB AM 2018 dipastikan akan terpenuhi dalam jumlah cukup. Untuk stok daging sapi tersedia 5.450 ton per tahun dengan tingkat kebutuhan per bulan hanya 152 ton per bulan. Ayam ras, pasokan 71.000 ton per tahun dengan tingkat permintaan 2.106 ton per bulan.

“Hanya bawang putih yang pasokannya harus segera diantisipasi, sehingga TPID berencana akan mendiskusikan hal ini dengan dinas terkait agar segera mendapatkan solusi,” ujarnya.

Dikhawatirkan pasokan bawang putih tidak mencukup rentan menyumbang meningkatnya inflasi. Melihat kondisi ini, Cik biasa disapa mengakui, KPw BI berusaha mengembalikan kejayaan bawang putih lewat pengembangan lahan percontohan untuk komoditas bawang putih di Desa Wanagiri, Kabupaten Buleleng. Diharapkan peluang usaha bawang putih ini dapat memberdayakan petani setempat sehingga diharapkan dapat menjaga stabilitas harga.

“Dengan pengembangan ini juga diharapkan mengurangi impor bawang putih yang mencapai 90 persen sehingga beban devisa tidak tertekan,” paparnya. (dik)