Populasi Ternak Ayam Petelur di Tabanan kian Memprihatinkan

124

Tabanan (Bisnis Bali) – Menyandang sebagai salah satu sentra produksi ayam petelur di Bali, namun kini kondisi populasi ayam petelur di Kabupaten Tabanan kian memprihatinkan. Betapa tidak, sempat memiliki populasi hingga 3 juta ekor ayam petelur pada 1995-an, kini Kabupaten Tabanan hanya memiliki populasi maksimal 1 juta saja.

Salah seorang peternak ayam petelur di Desa Buruan, Kabupaten Tabanan, Gede Darma Susila di Tabanan, Senin (2/4) mengungkapkan, selama ini di Bali ada tiga kabupaten yang menjadi sentra untuk produksi telur ayam. Yakni, Kabupaten Tabanan, Kabupaten Bangli, dan Karangasem. Imbuhnya, dari tiga kabupaten tersebut, hapir semua mengalami penurunan populasi saat ini.

“Penurunan populasi ayam peterlur sekaigus produksi telur ayam ini kondisinya cukup besar dari tahun ke tahun,” tuturnya.

Jelas Darma yang juga Ketua Koordinator Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Layer Bali, Kabupaten Tabanan, penyebab turunnya penurunan populasi ayam petelur di Bali ini dominan dipengaruhi oleh tingginya fluktuasi harga pada telur ayam yang terjadi selama ini dipasaran. Paparnya, pada masa orda baru lalu yang dibarengi dengan cendrung stabilnya kurs rupiah terhadap dolar AS, kondisi itu membuat usaha peternakan ayam petelur menjadi tumbuh subur karena antara biaya produksi dan harga jual saat itu relatif stabil. Namun, sekarang ini dengan fluktuasi nilai kurs, kondisi tersebut juga berdampak pada tingginya pergerakan naik turunnya harga jual atau produksi dipasaran.

Itu terbukti harga telur ayam ini sempat naik melonjak hingga Rp 1.300 per butir pada tahun lalu, sedangkan ketika turun harganya bisa mencapai diangka Rp 900 per butir. Ironisnya, penurunan tersebut jauh dibawah kisaran Break Event Point (BEP) usaha ternak ayam petelur yang berada dikisaran Rp 1.100 per butir.

“Tingginya fluktuasi yang cukup signifikan, membuat sejumlah peternak harus berpikir dua kali dalam melakoni usaha maupun menabah populasi dari sebelumnya. Kondisi tersebut kemudian diperparah lagi dengan ancaman serangan penyakit pada hewan,” ujarnya. (man)