Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Sumbang Inflasi

40

Denpasar (Bisnis Bali) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menurut pengamat ekonomi Gede Wicaksana, berpotensi akan menyumbang angka inflasi. Betapa tidak, selama ini ada banyak bahan makanan yang berasal dari impor, sehingga apabila kursnya naik, harga barang impor juga akan naik pula.

“Hingga kini, kita masih impor seperti kedelai, jagung, gandum sebagai bahan baku. Kalau harga gandum naik dampaknya akan ke mie, roti. Kalau kedelai harganya naik, dampaknya ke tahu tempe. Itu sangat berpotensi menyumbang angka inflasi,” tutur  Wicaksana yang juga pelaku usaha antarpulau, di Denpasar, Senin (2/4) kemarin.

Ia menerangkan, namun untuk mengetahui seberapa besar atau kecil dampak yang dimunculkan dari pelemahan rupiah ini, tergantung pada besaran nilai dan volume impor selama ini. Apabila bahan-bahan tersebut masih bisa disuplai dari dalam negeri, dampak inflasinya tidak terlalu tinggi. Sebaliknya, bila semua komoditi tersebut memiliki ketergantungan yang cukup tinggi dari impor, potensi terjadinya inflasi juga akan tinggi pula nantinya.

Di tempat terpisah Kepala BPS Bali, Adi Nugroho mengungkapkan, Maret 2018  berdasarkan hasil pemantauan harga-harga di Kota Denpasar tercatat mengalami infiasi 0,15 persen dengan indeks harga konsumen mencapai 129,40. Tingkat inflasi tahun kalender tercatat 1,75 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun pada bulan yang sama tercatat 3,23 persen. (man)