Sangat Potensial, Bali Miliki Tiga Sumber Ekonomi Baru

303

Mangupura (Bisnis Bali)  – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali menilai ada tiga sumber pertumbuhan ekonomi baru yang dapat dikembangkan di Pulau Dewata. Tiga industri potensial kompetitif yang potensial dikembangkan yaitu sektor pertanian, perkebunan, dan industri kreatif.

Deputi Kepala KPw BI Bali Azka Subhan pada Desiminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Bali di Kuta, Rabu (28/3) kemarin mengatakan, dari sektor pertanian potensial dikembangkan karena memiliki nilai RCPA 24, 4, global market sebesar 5,21, gap ekspor 1,52 dan LQ 1,31.

“Hal ini mengindikasikan adanya keunggulan komparatif dari sisi bahan baku yang ditunjang oleh tenaga kerja yang cukup dan potensi yang cukup besar atau Global market dan gap ekspor yang positif,” katanya.

Menurutnya, pengembangan sektor pertanian ini diarahkan untuk dapat diselaraskan dengan pariwisata seperti pengembangan agrowisata atau desa wisata.

Dari simulasi dampak yang menggunakan model Structural Vector Autoregression (SVAR) diperkirakan pengembangan agrowisata dapat meningkatkan jumlah wisatawan 0,05 persen jumlah tenaga kerja 0,02 persen dan pada akhir dapat memberi kontribusi pada peningkatan PDRB sektor pertanian 0,9 persen.

Dari sektor perkebunan,  kata Azka, memiliki RCPA 0,98, global market 7,6, gap ekspor 55,7 dan LQ 0,31. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pasar ekspor masih sangat tinggi dengan didukung oleh ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja yang cukup walaupun tidak sebanyak sektor pertanian atau agrowisata.

“Pengembangan sektor perkebunan ini meliputi pengembangan komoditas industri pengolahan kopi,” ujarnya.

Adapun dari hasil simulasi dampak diperkirakan pengembangan industri pengolahan kopi dapat meningkatkan nilai ekspor 0,5 persen jumlah tenaga kerja 0,0001 persen dan pada akhirnya dapat berkontribusi pada peningkatan PDRB sektor pertanian 1 persen.

Terakhir dari potensi ekonomi baru di Bali yaitu dari bidang industri kreatif. Dalam penelitian ini meliputi industri pakaian jadi dan industri pengolahan kayu dan rotan. Industri pakaian jadi memiliki nilai RCPA 5,29, global market 3,23  gap ekspor 5,2 dan LQ 2,04. Sedangkan industri pengolahan kayu dan rotan memiliki nilai RCPA 0,86, global market 1,8, gap ekspor 5,7 dan LQ1,47.

“Hal ini menunjukkan potensi pasar ekspor industri kreatif masih cukup tinggi dengan didukung oleh ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja yang cukup banyak,” paparnya.(dik)