Pelaku Wisata harus Pahami Pemasaran Digital

32
 DIGITAL - Seminar "Sales Strategy in Disrupted Market" guna mendorong pelaku pariwisata memahami teknologi informasi (TI) dalam pemasaran digital. (kup)

Mangupura (Bisnis Bali) – Industri jasa pariwisata menuntut pelakunya memiliki kreativitas dan inovasi untuk dapat memenuhi kebutuhan konsumennya yang makin hari makin beragam, meluas, kompleks, bahkan menembus jarak, ruang dan waktu.

Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dalam seminar Sales Strategy in Disrupted Market, Jumat (23/3) mengatakan, pelaku pariwisata wajib memahami perkembangan teknologi informasi (TI) sehingga mampu melakukam  pemasaran secara digital.

Ia mengungkapkan, persaingan di sektor pariwisata tidak semata-mata hanya persaingan harga. Kemajuan TI, mendorong pelaku pariwisata dituntut makin paham kebutuhan pasar.

Tjokorda Oka Artha Ardhana menjelaskan, kemajuan teknologi komunikasi yang kini jauh melampaui teknologi industri barang makin memposisikan konsumen sebagai penentu pasar (customer driven market). Ini bukan hanya atas jenis barang dan jasanya tetapi juga bagaimana barang dan jasa itu didistribusikan. Konsumen senantiasa menginginkan barang vang berkualitas tinggi, harga terjangkau, proses pebuatan yang cepat, ketersediaan barang yang mudah didapat serta delivery yang dapat dikatakan instant.

Wakil Ketua 1 DPD IHGMA Bali yang juga Ketua Panitia Seminar, Ramia Adnyana mengatakan, tuntutan konsumen yang beragam mengharuskan produsen dan atau penyedia jasa harus bekerja dengan lebih cerdas dan tidak lagi dapat menggantungkan perencanaan bisnisnya hanya pada keandalan data historis dan trennya saja. Kemajuan teknologi komunikasi digital dapat mengubah opini pasar secara cepat dan masif. Dengan demikian, tidak ada lagi tren yang aman dan dapat dipakai sebagai sebagai acuan produksi dan penyediaan jasa. (kup)