Banyaknya aktivitas yang tidak dilakukan pada saat perayaan Nyepi, khususnya pada pelasakanaan catur brata penyepian, membuat sebagian alat-alat operasional yang membutuhkan energi listrik dipadamkan. Hal ini mendukung pengurangan penggunaan energi listrik yang memberikan dampak pada penghematan energi yang terjadi dalam satu hari. Seperti apa?

PADA perayaan Nyepi di Bali, sebagian besar masyarakat tidak melakukan aktivitas seperti biasanya. Perkantoran, pusat perbelanjaan serta

beberapa tempat umum lainnya pun tutup. Termasuk penerangan yang dipadamkan pada malam hari oleh masyarakat. Enam wilayah di

Bali seperti Nusa Penida, Nusa Lembongan, Nusa Ceningan serta tiga wilayah di Buleleng yaitu Tejakula, Panuktukan dan Les meminta listrik dipadamkan pada perayaan Nyepi. Hal itu tentunya membuat pemakaian energi listrik berkurang dari hari-hari biasa.

PLN Distribusi Bali mencatat, realisasi pemakaian energi listrik (beban puncak) di Bali pada hari H Nyepi tahun 2018 yaitu 518,3 MW

pada malam hari dan 515 MW pada siang hari. Dibandingkan hari-hari biasa, beban puncak tertinggi dari Januari yaitu 805 MW pada

malam hari dan 771 MW pada siang hari. Selanjutnya pada Februari lalu beban puncak tertinggi yaitu 841 MW pada malam hari dan 786 MW pada siang hari, serta per 2 Maret 2018 beban puncak tertinggi di Bali yaitu mencapai 832 MW pada malam hari dan 785 MW pada siang hari.

Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Distribusi Bali, I Gusti Ketut Putra mengatakan, penurunan beban puncak pada saat Nyepi ini mencapai 35-40 persen dibandingkan hari-hari biasa. (wid)