Bali perlu Perimbangan Pembangunan Pariwisata

353
 WISATA - Pengembangan pariwisata di luar Bali Selatan untuk perimbangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (kup)

Denpasar (Bisnis Bali) – Bali sudah berkomitmen mengembangkan pariwisata budaya. Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Wilayah Bali, Putu Anom, Rabu (21/3) mengatakan, perlu perimbangan pembangunan pariwisata sehingga seluruh masyarakat Bali merasakan manfaat pengembangan pariwisata.

Ia mengungkapkan, Bali sering bahkan selalu mendapat predikat the best tourist destination in the world. Ini tentu karena memiliki keunikan budaya yang adilihung yang bersumber dari nilai-nilai luhur agama Hindu.

Ia menjelaskan, pariwisata Bali didukung keindahan alam dan keramahtamahan penduduknya. Bali mendapat kunjungan wisman sekitar 40 persen kunjungan wisman ke Indonesia dan menyumbang hampir 50 persen pendapatan pariwisata nasional.

Dipaparkannya, Bali dengan gemerincing dolar dinilai belum mampu memeratakan pendapatan masyarakat Bali. Hal ini terlihat dari nilai gini ratio masih di atas 0.3 pariwisata Bali masih terkosentrasi di Bali Selatan khususnya di Kabupaten Badung.

Lebih lanjut dikatakannya, jumlah kamar hotel di Badung sekitar 80 persen dari total jumlah kamar hotel di Bali sehingga wajarlah Badung memperoleh pajak hotel & restoran (PHR) tertinggi. Kebijakan Pemkab Badung sudah merealisasikan sharing pendapatan PHR tersebut ke-6 kabupaten di Bali. Ini meliputi Tabanan, Jembrana, Buleleng, Bangli, Klungkung dan Karangasem.

Ia melihat industri pariwisata di Bali lebih banyak dimiliki investor luar Bali. Hal ini dengan sendirinya pendapatan tersebut tidak banyak dinikmati masyarakat  Bali. walaupun ada itu sebatas sebagai karyawan, dan ditambah makin kalah bersaingnya pengusaha lokal Bali dalam bisnis pariwisata.

Menurutnya, dalam kondisi seperti ini, perlu adanya kebijakan pemerintah yang berpihak kepada pengusaha lokal Bali. Ini termasuk masyarakat Bali sebagai  pendukung budaya Bali.

Saat ini saja industri kerajinan masyarakat Bali makin meredup dan hampir mati suri kalah bersaing. Hal ini perlu menggiatkan UMKM yang dimiliki masyarakat lokal Bali agar bisa kembali menggeliat bangkit seperti masa jaya di tahun 80-an. (kup)