Denpasar (Bisnis Bali) Tanaman cabai rawit tergolong tanaman semusim, yang umurnya sangat pendek yaitu maksimal 6 bulan dengan masa produksi 2-3 bulan dari panen pertama. Kepala Stasiun Percobaan dan Inkubator Bisnis Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa, Ir. Ketut Agung Sudewa, M.Si. memaparkan, budi daya cabai rawit sangat menguntungkan karena harga komoditas ini sering kali melambung tinggi, namun sangat jarang anjlok yang mengakibatkan petani merugi.

Bibit unggul banyak dan mudah didapatkan di pasaran dengan keunggulan masing-masing. “Pemilihan bibit unggul memang sangat penting, karena akan menentukan kualitas cabai  rawit yang dihasilkan. Tetapi umur tanaman dan produktivitas tergantung pada lingkungan (tanah, iklim, suhu dan lain-lain),” paparnya.

Rata-rata tanaman cabai berproduksi 2-3 bulan dari panen pertama, tetapi karena tidak lagi diberikan perawatan saat panen produksi akan menurun dan tanaman akan cepat mati. “Sejumlah petani cabai yang mendapat pendampingan dari Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa melakukan budi daya cabai dengan sistem organik. Ternyata dengan sistem organik tersebut hasil panen lebih banyak dan umur tanaman juga bertahan dua kali lipat tanaman cabai yang dikembangkan secara konvensional,” ungkapnya.

Sementara I Gusti Ngurah Agung Suarsa, petani cabai di Desa Mengwitani Kabupaten Badung mengatakan, penggunaan pupuk organik dapat mengembalikan kesuburan tanah sehingga produksi cabai dibandingkan dengan menggunakan pupuk kimia akan lebih banyak. “Kalau dengan pupuk kimia tiga pohon cabai hanya menghasilkan satu ons cabai. Dengan pupuk organik hanya 2 pohon saja menghasilkan jumlah yang sama,” ungkapnya.  (pur)