Migrasi ke Kartu Chip, Bank Perlu Biaya Besar

491
ist

Denpasar (Bisnis Bali) – Peralihan sistem keamanan pada alat transaksi kartu anjungan tunai mandiri (ATM) maupun kartu kredit ke sistem kartu chip guna mencegah munculnya kasus skimming yang kembali marak terjadi, menurut pengamat IT Drs. Dadang Hermawan, Ak., M.M. akan membutuhkan biaya besar. Meski begitu, biaya besar tersebut akan berdampak positif dengan meningkatnya kepercayaan nasabah kepada perbankan dengan jaminan keamanan.

“Biaya besar untuk peralihan ke kartu chip ini mucul salah satunya seiring banyaknya jumlah nasabah pada bank bersangkutan. Belum lagi dengan perubahan sistem IT di perbankan,” tutur Dadang yang juga Ketua STIKOM Bali, Selasa (20/3) kemarin.

Ia menerangkan, saat ini untuk tingkat keamanan transaksi menggunakan ATM maupun kartu kredit, kartu chip memang menjadi pilihan yang tepat untuk menggantikan sistim magnetic strip yang telah terbukti lemah dengan berhasilnya dibobol dalam bentuk tindak kejahatan skimming. Katanya, meski jadi pilihan yang efektif, untuk periode jangka panjang mengadopsi sistem kartu chip juga bukan menjadi solusi yang benar-benar aman. Sebab, selama ini ada kecenderungan seiring berkembangnya IT terkait tingkat keamanan perbankan, di sisi lain kemajuan teknologi tindak kejahatan atau pembobolan rekening perbankan melalui IT juga ikut berkembang pula.

“Artinya dari masa ke masa IT terkait tingkat keamanan perbankan maupun hal lainnya selalu mengalami perubahan. Mau tidak mau perubahan ini juga harus disikapi kalangan perbankan untuk tetap menjaga kepercayaan nasabah,” ujarnya. (man)