KUNYIT putih selain dimanfaatkan sebagai bumbu dapur belakangan banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan jamu atau herbal karena memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Untuk membudidayakan kunyit putih sebenarnya sangat mudah, dan tidak membutuhkan perawatan khusus.

Gusti Ngurah Jaman, S.E., M.Si., pemilik CV Usadha Taksu Bali, memaparkan kebutuhan kunyit putih di Bali selama ini lebih banyak didatangkan dari Jawa. Karena itu, ia mencoba mengembangkan kunyit putih di daerah Penebel, Tabanan.

Kunyit putih adalah salah satu jenis tanaman tahunan yang banyak tumbuh di kawasan Asia seperti India, Cina Selatan, dan Jawa. “Kunyit putih memiliki banyak manfaat seperti membantu menyegarkan, membersihkan dan menghilangkan gatal dan juga mengobati kesemutan. Kunyit putih merupakan salah satu tanaman obat pembersih ginjal yang juga bermanfaat sebagai antitumor, antiimflamasi, antioksidan, menurunkan kadar lemak dalam darah, menurunkan kadar kolestrol, pembersih darah, antimikroba dan dapat membantu menyembuhkan kanker,” paparnya.

Kunyit dapat tumbuh dengan baik pada daerah baik dataran rendah maupun tinggi, dapat tumbuh dengan baik pada lahan yang gembur dan memiliki unsur hara yang mencukupi. “Kalau ingin satu tanaman menghasilkan umbi kunyit yang lebih banyak sedikitnya 10 kg, maka sebelum ditanam lahan harus digemburkan terlebih dahulu dua kali sambil diberi pupuk organik,” terangnya. Setelah itu diamkan selama beberapa minggu.

Bibit diperoleh dari memotong rimpang kunyit yang sehat, segar dan bebas dari penyakit. Rimpang kunyit putih yang akan dijadikan bibit dipotong sama panjang yaitu sekitar 5-7 cm dengan berat 20-30 gram per rimpang.

Selanjutnya, bibit kunyit diangin-anginkan di tempat yang lembab selama sekitar 1-1,5 bulan. Setelah 1,5 bulan dan bibit telah tumbuh tunas sepanjang 2-3 cm, bibit siap dipindahtanamkan ke media tanam. (pur)