NILAI jual susu kambing etawa tergolong tinggi yaitu Rp 40 ribu per liternya. Meski demikian, Kelompok Wanita Tani (KWT)  Tunas Mekar, Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu,  Kabupaten Buleleng, masih ingin meningkatkan pendapatan dengan melakukan pengolahan pascapanen.

Hal tersebut menurut Ni Nyoman Mawini, Ketua KWT Tunas Mekar, sebagai upaya antisipasi bila produksi susu berlebihan.

“Awalnya kami melakukan pengolahan susu ini, karena khawatir kalau tidak semua susu dapat dijual langsung. Pertama kali kami membuat olahan berupa sabun susu,” tuturnya. Pengolahan ini mulai dilakukan sejak 2012 dan saat ini produk olahan sudah berkembang menjadi beragam produk seperti sampo, masker, lulur dan beragam kosmetik lainnya yang menggunakan bahan alami. Sabun dijual Rp 20 ribu per pc, body lotion dan sampho Rp 25 ribu per 100 ml.

Selain itu belakangan, ia mulai mengembangkan produk olahan berupa makanan seperti es krim dalam cup kecil dijual Rp 5 ribu, keeper kemasan 330 ml dibandrol Rp 25  ribu dan camilan stik yang menggunakan bahan dasar susu kambing.

“Kalau mau membuat keeper, siapkan susu yang baru habis diperah lalu panaskan 70 derajat dan dinginkan 30 derajat, kemudian masukkan dalam biangnya  dan fermentasi selama 24 jam. Setelah itu saring dan pisahkan keeper dengan biangnya,” paparnya. Keeper ini tidak hanya baik untuk kesehatan namun juga dapat digunakan sebagai masker. Masker keeper ini belakangan sangat banyak penggemarnya dan banyak dipasarkan secara online.  (pur)