Suku Bunga KPR Subsidi Murah REI Ingin Hadir di semua Kabupaten di Bali

55
 REI Bali berkeinginan bisa  merealisasikan pembangunan rumah bersubsidi di semua kabupaten/kota di Bali tahun ini agar dapat membantu MBR lebih cepat memiliki rumah. (ist)

Denpasar (Bisnis Bali) – Real Estate Indonesia (REI) Bali berkeinginan bisa  merealisasikan pembangunan rumah bersubsidi di semua kabupaten/kota di Bali tahun ini agar dapat membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) lebih cepat memiliki rumah.

“Apalagi saat ini suku bunga KPR untuk rumah bersubsidi tergolong terjangkau bagi semua kalangan yaitu hanya lima persen, beda dibandingkan rumah komersil bisa mencapai 12 -13 persen,” kata Ketua DPD REI Bali, Pande Agus Permana Widura, di Sanur.

Ia mengatakan, begitupula dari sisi down ayment (DP) masih juga terkjangkau yaitu kisaran satu hingga lima persen, sementara komersil bisa mencapai 30 persen. Berbagai kemudahan dan kebutuhan rumah yang tinggi inilah membuat REI berkeinginan dapat menyediakan rumah bersubsidi dengan skema FLPP di seluruh kabupeten/kota di Bali. Ditambah dukungan data Badan Pusat Statistik kebutuhan rumah di Bali pada 2016 mencapai 300 ribu unit, yang berarti tahun ini akan berpotensi meningkat lagi.

Keinginan REI tersebut, kata dia, sayangnya dalam merelaisasikan ada kendala dari sisi harga lahan yang mahal di beberapa kabupaten/kota.

“Selain itu, luasan lahan juga menjadi masalah klasik bagi REI karena ketika ingin membangun rumah subsidi di daerah tertentu ada peraturan daerah terkait luas lahan,” ujarnya.

Di beberapa daerah luasan lahan rumah subsidi minimal 100 meter persegi, namun untuk di peraturan pemerintah luasan lahan untuk pembangunan rumah subsidi minimal 60 meter persegi.

“Perbedaan aturan inilah menjadi salah satu kendala,” tegasnya.

Untuk itu, pihaknya akan gencar melakukan pendekatan kepada kabupaten/kota di Bali agar bisa didukung dalam penyediaan rumah bagi MBR. Untuk saat ini kawasan yang berpotensi membangun rumah subsidi mulai Tabanan, Karangasem, Buleleng, Jembarana, Bangli serta Klungkung karena dari sisi harga lahan   berpotensi untuk pembangunan rumah murah tersebut, hanya saja dalam hal ini masih terkendala aturan luasan lahan.

“Kami akan terus berupaya agar bisa merealisasikan hal tersebut. Kami akan terus melakukan pendekatan secara intensif, namun  dalam merekalisaikan hal ini tentu tidak akan merusak tatanan yang sudah ada di daerah masing-masing,” ungkapnya. (dik)