Unit Pertokoan Koperasi Perlu Anggota ”Militan”

61

Koperasi serba usaha (KSU) biasanya memiliki usaha unit pertokoan. Sesuai aturan perundang-undangan koperasi, sasaran pasarnya selain anggota juga dapat melayani masyarakat umum. Namun, selama ini KSU yang mengelola unit pertokoan banyak yang tutup. Akibat banyak kendala, anggotanya pun enggan berbelanja di koperasi. Kendala apa yang dihadapi koperasi agar mampu bersaing dan berkembang?

JUMLAH koperasi di Bali hampir 5 ribu unit. Namun hanya sedikit yang memiliki unit usaha perdagangan (pertokoan). Kebanyakan koperasi mengelola usaha jasa keuangan. Umumnya unit pertokoan belum mampu bersaing dengan usaha sejenis lainnya, apalagi dengan perusahaan besar yang sudah mampu akses langsung ke pabrikan.

Pemerhati koperasi, DR. I Putu Astawa, S.E., M.M. menyebutkan, sebelumnya koperasi hampir semuanya mengelola unit pertokoan saat zaman jayanya koperasi unit desa (KUD). Namun sekarang KUD nyaris lenyap. Entah apa penyebabnya, hanya beberapa KUD yang masih aktif. Sama juga pada saat koperasi mengelola pertokoan sebelumnya sempat mengantarkan nama koperasi dipercaya seluruh masyarakat. Namun belakangan ini, perkembangan usaha makin besar dan persaingan juga sangat ketat. Perusahaan perorangan ataupun berupa pemilik saham dan mampu mendapatkan barang di pabrik sehingga barang yang dijual harganya sangat kompetitif. Koperasi tidak mampu bersaing, akhirnya banyak yang berguguran. Hanya ada beberapa KSU yang masih mampu bertahan. ”Kami lihat banyak kendala yang dihadapi koperasi mampu bersaing dengan usaha sejenis milik perorangan. Selain kendala klasik yakni sumber daya manusia (SDM) dan akses pasokan barang,” tegasnya.

Manager Utama KSU Pemogan, Dewa Bagus Putu Budha, S.E.,M.M. mengakui selama ini belum mampu bersaing dengan usaha sejenis lainnya. Akibat belum mampu akses barang yang dijual sehingga harga jual lebih tinggi dari harga pesaing. Selain juga jenis barang yang dibutuhkan terbatas. Maka pilihan pelanggan juga menjadi terbatas. (sta)