I Nyoman Santra, Pelopori Pengembangan Salak Gula Pasir di Kebonjero

27

Tabanan (Bisnis Bali) – Potensi Banjar Kebonjero, Kecamatan Pupuan Tabanan sebagai sentra pertanian salak gula pasir dengan pangsapasar yang telah mampu menembus sejumlah pasar swalayan di Bali saat ini, tak terlepas dari peran I Nyoman Santra yang merupakan pelopor untuk pengembangan salak gula pasir di daerah tersebut.

Menariknya, pengembangan salah satu buah lokal bercita rasa manis awalnya dimulai hanya dari dua biji salak gula pasir.

“Cikal bakal pengembangan salak gula pasir di Kebonjero bermula dari sekitar 1991 lalu, itu pun dari dua biji salak yang merupakan pemberian orang kepada anak saya di daerah Karangasem. Saat itu, karena cita rasanya manis berbeda dari salak pada umumnya, kemudian bijinya dibawa pulang untuk dikembangkan,” tutur Santra, petani salak gula pasir di Banjar Kebonjero, Kecamatan Pupuan Tabanan, belum lama ini.

Paparnya, dua biji salak tersebut kemudian dicoba dikembangkan, bahkan terpisah dengan komiditi perkebunan lainnya, yakni kopi dan cengkeh yang ia usahakan saat itu. Akuinya, selama budi daya salak gula pasir ada berbagai pengalaman yang diperoleh, salah satunya sempat biji salak yang coba dikembangkan tersebut hilang diawa tikus, namun akhirnya ditemukan lagi kemudian ditanam kembali.

Jelas Santra yang merupakan ayah dari I Ketut Suardika ini, dari pengalaman tersebut membuat pemeliharaan salak gula pasir ini terus ditingkatkan dan hasilnya sekitar 3-4 tahun kemudia, biji salak yang ditanam tersebut tumbuh besar menjadi tanaman dan mulai menghasilkan buah untuk yang pertama kalinya.

Katanya, panen pertama saat itu, cita rasa buah yang dihasilkan dan bentuk atau ukuran salak gula pasir menyerupai dengan indukannya. Yakni, berasa manis dengan ukurannya lebih kecil dari salak pada umumnya.

“Dari biji buah hasil panen pertama tesebut, kemudian dikembangkan lagi dengan ditanam disekitar areal kebun dan hasilnya juga tumbuh bagus,” ujarnya. (man)