PERTANIAN organik menghasilkan produk yang sehat dan berkualitas, sehingga harga jual di pasaran jauh lebih tinggi dari hasil pertanian konvensional yang menggunakan bahan kimia. Seperti halnya buah naga organik yang dikembangkan di Desa Mengwitani, Badung. Harga jualnya dua kali lipat buah naga biasa.

Ketut Gede Anom Sayoga, petani buah naga di  Banjar Batur, Desa Mengwitani memaparkan, sejak awal mulai budi daya 5 tahun lalu memang menggunakan sistem pertanian organik. Harga jual buah naga organik yang dikembangkannya saat musim panen ini Rp 10 ribu per kilogram, padahal buah naga biasa hanya  Rp 5 ribu per kilogramnya.

“Awalnya, saya ingin memanfaatkan lahan yang sudah lama terbengkalai karena saluran irigasi terputus. Akhirnya saya mencari komoditas yang cocok untuk lahan yang kering dan tidak terlalu banyak pasokan airnya, dan pilihan saya jatuh pada buah naga,” tuturnya sembari menambahkan saat itu buah naga sedang tren dan baru masuk ke Bali.

Awal mulanya ia hanya menanam 18 are buah naga, dan saat ini sudah berkembang menjadi 84 are. Ia mengaku mendatangkan bibit dan pohon randu sebagai tempat menempelnya buah naga dari Jawa. “Saya memilih menggunakan pohon randu bukannya beton seperti kebanyakan orang lakukan, karena pemikiran saya saat buah naga baru tumbuh akarnya masih muda bila menempel pada beton yang panas akan mudah terbakar dan mati. Makanya saya memilih menggunakan pohon kapuk/randu sebagai inang,” paparnya. Selain itu dengan menanam pohon randu tersebut, daunnya dimanfaatkan sebagai makanan kambing yang kotorannya sangat bagus sebagai pupuk organik.

Jarak tanam yang digunakan 2,5 x 1,5 meter, dengan lubang tanam 20 cm atau 20% dari tinggi bibit. “Dulu saya membeli bibit Rp 2 ribu per batang, sekarang mungkin sekitar Rp 3 ribu per batang dengan tinggi 80 cm.  Untuk pemupukan dilakukan secara rutin dengan pupuk organik 3-5 kg tiap pohon setiap bulan.

Untuk perawatan diterangkannya pohon buah naga tidak suka dengan air  tergenang sehingga drainase harus baik. Namun buah naga juga tetap membutuhkan ketersediaan air sehingga saat musim kemarau perlu dilakukan penyiraman tiga hari sekali. Selain itu cabang yang baru tumbuh harus diatur agar tidak menyentuh tanah, karena jika berbuah buahnya tidak boleh menyentuh tanah agar tidak busuk dan  dimakan semut. “Saya melakukan pemotongan cabang hanya jika cabang terlalu panjang. Saya lebih banyak mengikat cabang ke pohon inang, karena tiap cabang terutama yang muda punya potensi lebih besar untuk berbuah,” terangnya.  (pur)