”Taksu” Bali Wajib Dijaga Proyek Jawa Bali Crossing belum Ada Titik Temu

58
suasana diskusi membahas JB Crossing bertempat di Ruang Kreatif, Gedung Pers Ketut Nadha, Denpasar  (wid)

Denpasar (Bisnis Bali) – Persoalan pasokan kelistrikan di Bali yang diprediksi pada 2021 mendatang akan mengalami defisit, sampai saat ini proyek Jawa Bali (JB) Crossing masih belum menemukan titik terang untuk pembangunan tower 500 KV. Hal ini mendorong diadakan pertemuan antara PLN, PHDI Bali, Pemprov Bali, hingga stakeholder untuk duduk bersama membahas solusi terkait JB Crossing agar tidak berdampak buruk kelestarian dan kesucian lingkungan di Bali.

Pada acara yang digelar di Ruang Kreatif, Gedung Pers Bali K Nadha, Selasa (13/2), menghadirkan langsung General Manager PLN Distribusi Bali Nyoman Suwarjoni Astawa, Wakil Ketua PHDI Bali Pinandita Pasek Suardika, Pemprov Bali, akademisi ITB dan Unud, Peradah Bali, DPRD Bali dan praktisi pariwisata.

Pada kesempatan ini, GM PLN Distribusi Bali, Nyoman Suwarjoni Astawa memaparkan, JB Crossing merupakan solusi dalam jangka pendek yang bisa memberi keamanan pada kebutuhan pasokan listrik di Bali ke depan. Dengan dibangunnya jaringan JB Crossing ini, dikatakannya akan memiliki tambahan waktu untuk memikirkan pembangunan pembangkit yang sesuai nantinya.

Ia juga mengatakan, PLN memiliki sifat yang fleksibel yang akan mengikuti kearifan lokal yang ada dan mematuhi bisama. “Jika memang jaringan di udara tidak diperkenakan, dikarenakan untuk menjaga kesucian lingkungan di Bali, kami juga akan siap untuk membangun jaringan di bawah laut. Untuk itu, kami memohon arahan yang sesuai dan segera ada rekomendasi,” ungkapnya.

Menjawab hal itu, Wakil Ketua PHDI Bali, Pinandita Pasek Suardika mengatakan, masyarakat dan aktivitas di Bali memang sangat membutuhkan listrik, namun demikian dia mengharapkan agar semua pembangunan yang ada tetap mampu menjaga taksu Bali dan menjaga kesucian wilayah Bali. “Kami tidak ingin mendengar kata Bali pernah metaksu, namun kata yang kami inginkan adalah Bali masih metaksu, sehingga apa yang menjadi bisama tetap harus dipatuhi,” ungkapnya. (wid)