PERTUMBUHAN ekonomi global pada 2018 diprakirakan tumbuh relatif sama dengan tahun sebelumnya di kisaran 3,6 persen, dengan sumber pertumbuhan berasal dari  negara berkembang di tengah pemulihan ekonomi negara maju yang terbatas. Hal sama terhadap kinerja ekonomi Bali yang berpotensi tumbuh positif pada 2018 dan 2019. Bagaimana prediksi pertumbuhan ekonomi Bali dan tantangan apa saja yang harus dicarikan solusinya?

Jika bercermin pada kinerja ekonomi Bali triwulan IV/2017 sangat dipengaruhi peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung, pengerjaan infrastruktur dalam rangka IMF-WB AM 2018 dan kondisi anomali cuaca. Kinerja ekonomi Bali tercatat tumbuh 4,01 persen (yoy) pada triwulan IV-2017, melambat dibanding triwulan III/2017 (6,23 persen, yoy) dan juga melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama (5,19 persen, yoy). Selain itu, peningkatan kinerja konstruksi dapat menahan dalamnya perlambatan ekonomi Bali pada triwulan IV/2017.

Dilihat secara keseluruhan, kinerja ekonomi Bali sepanjang 2017, tumbuh 5,59 persen (yoy), melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,32 persen (yoy). Kendati demikian, kinerja ekonomi Bali pada 2017 lebih tinggi dibandingkan ekonomi nasional yang tumbuh sebesar 5,07 persen (yoy) di periode yang sama.

Pertumbuhan ekonomi Bali dipengaruhi anomali cuaca, kebijakan pengurangan DOC, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung, penutupan operasional bandara (3 hari), kecenderungan konsumen menahan laju belanjanya dan penataan OPD menjadi beberapa faktor yang menyebabkan perlambatan tersebut.

Bercermin pertumbuhan ekonomi 2017 tersebut, bagaimana kondisi ekonomi Bali 2018 dan 2019? Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali, Causa Iman Karana mengatakan, berdasarkan outlook pertumbuhan ekonomi Bali pada 2018 optimis tumbuh positif di kisaran 6,00-6,40 persen (yoy) atau lebih tinggi dari 2017 yang mencapai 5,59 persen, begitu pula pada 2019 optimis lebih tinggi lagi di kisaran 6,05-6,45 persen (yoy).

“Pertumbuhan ekonomi Bali pada 2016 berkisar 6,32 persen (yoy) dan 2017 berkisar 5,59 persen (yoy), itu berarti dua tahun ke depan ekonomi Pulau Dewata optimistis lebih tinggi lagi,” katanya. (dik)