BANYAK peluang bisa dilakukan untuk mendapatkan keuntungan khususnya dari sektor pertanian. Salah satunya dengan budi daya jamur tiram. Saat ini budi daya jamur tiram sudah mulai banyak dilirik oleh para pelaku usaha baik dari yang berskala kecil, sedang hingga besar.

Seperti yang dilakukan I Ketut Wisata, pemilik Oke Jamur dari Lovina Singaraja, pemilihan jamur tiram untuk dibudidayakan dan sebagai lahan bisnisnya saat ini karena melihat peluang bisnis pada jamur tiram cukup menjanjikan, selain karena daya serap pasar jamur tiram cukup tinggi dan terus meningkat, jamur tiram juga merupakan jamur yang paling banyak diminati untuk diolah menjadi berbagai macam menu jamur. Itulah salah satu alasan mengapa dirinya memilih membudidayakan jamur tiram.

Ia menjelaskan, dipilihnya jamur tiram karena proses pembudidayaannya yang mudah dan tidak menghabiskan banyak tempat sebagai lahan tanam, karena budidaya jamur menggunakan sistem bertingkat seperti rak sehingga sangat efisiensi ruang. Selain itu harga bibit yang sudah jadi (baglog-red) tergolong murah yakni Rp 3.000 per baglog, serta mudah diperoleh. Sementara harga jual jamur tiram yang cukup tinggi di pasaran mulai Rp 18.000 – Rp 20.000 per kilogramnya menjadikan budi daya jamur tiram ini sangat layak dijadikan usaha jangka panjang.

Diterangkannya, membudidayakan jamur tiram cukup membutuhlan tempat (kumbung-red) atau ruang yang lembap, udara yang cukup dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Mengingat jamur bisa tumbuh sempurna apabila kondisi di dalam ruangan dengan tingkat kelembapan yang cukup. Mulai dari baglog jadi hingga memasuki panen pertama, hanya membutuhkan waktu 1,5 bulan dan jamur mampu panen setiap hari dengan masa produksi selama 4 bulan. “Setelah empat bulan baglog diganti dengan yang baru karena nutrisinya sudah habis,” imbuhnya.

Budi daya jamur tiram ini juga sangat ramah lingkungan mengingat jamur sangat rentan terhadap tempat yang kotor sehingga harus bersih dan jauh dari kesan kumuh, juga limbah baglog ini nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk  “Sangat ramah lingkungan karena baglog bekas itu bisa digunakan sebagai pupuk kompos juga di belakang rumah saya,” jelasnya. (ira)