Pengemasan Pertanian dan Gunung Purba Jadi Paket Wisata Menjanjikan

32

SUMBER daya alam gunung api purba yang dikemas berdampingan dengan sektor perkebunan dan pertanian mampu menjadi paket wisata menjanjikan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, Causa Iman Karana di sela-sela Lokakarya Kehumasan dan Kebanksentralan di Yogyakarta mengatakan,  pemanfaatan alam yang saling mendukung atau tidak merusak sektor lainnya menjadi hal yang positif untuk dicontoh. Pengembangan sektor pariwisata yang menyebar di berbagai daerah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Sekretaris Pokdarwis dari paket wisata Desa Nglanggeran yang menawarkan pendakian Gunung Api Purba, Sugeng Handoko mengatakan, Warga Desa Nglanggeran, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta mampu hidup dari bertani dan mengelola wisata. Sektor pertanian justru menjadi yang utama dikerjakan, sementara sektor pariwisata menjadi pendampingnya. Potensi alam berupa gunung dan perkebunan dikemas menjadi paket wisata yang apik.

Salah satunya adalah Embung Nglanggeran yaitu kolam buatan yang memanfaatkan air hujan yang ditampung untuk kebutuhan pengairan irigasi bagi 20 hektar tanaman buah klengkeng dan durian. Kapasitas tampungan air mencapai 12 meter kubik dengan luas embung mencapai 0,3 hektar dengan kedalaman 4 meter.

“Dengan pengelolaan embung yang dimanfaatkan  sebagai objek wisata baru dapat mendatangkan banyak wisatawan, ” ujarnya.

Menurutnya, meski hanya embung, namun dari kolam buatan yang diresmikan Gubernur  Yogyakarta 2013 lalu ini mampu melihat pemandangan gunung api purba dan pemandangan di bawahnya. Dari embung juga dapat terlihat sunset.

Ia juga mengatakan selain embung,  potensial dari alam yang menarik yaitu mendaki Gunung Api Purba. Dari pos satu gunung api purba, wisatawan dapat melihat Kota Yogyakarta. Ada 5 pos gunung api purba. Setiap titik disediakan spot-spot untuk berfoto, tempat duduk untuk istirahat dan quote-quote untuk menjaga lingkungan. Di atas gunung api purba hidup kelompok masyarakat yang terdiri dari 7 KK. tidak boleh lebih dan kurang. (dik)