DPD HKTI Bali Kunjungi Pembuat  Pupuk Organik di Tabanan Beromzet Ratusan Juta

32
Ketua DPD HKTI Bali (no dua dari kiri) di sela-sela kunjungan ke CV Timan Agung.

Tabanan (Bisnis Bali) – Dalam rangka ikut mendorong pertanian organik di Provinsi Bali, DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali melakukan kunjungan ke lokasi pembuatan pupuk organik di CV Timan Agung, Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Sabtu (10/2). Rombongan yang langsung di pimpin oleh Ketua DPD HKTI Bali, Prof. Dr. Nyoman Suparta ini melihat cara proses pengolahan pembuatan pupuk organik padat maupun cair yang menggunakan bahan baku lokal, dan pembuatan minuman kesehatan yang mengadopsi bahan baku dari tanaman kelor.

Ketua DPD HKTI Bali, Nyoman Suparta, dalam kesempatan tersebut mengungkapkan, kunjungan ke tempat produksi pupuk organik di Desa Kelating yang juga merupakan milik dari Ketua HKTI Tabanan, AA Nyoman Wijana untuk melihat secara langsung, seperti apa pembuatan dan proses pengolahan dari pupuk organik dengan melalui proses bio pestisida dan pengolahan melalui bio urine. Selain itu menariknya, karena semua bahan baku yang digunakan merupakan ada ditingkat lokal. Seperti, daun kelor, hingga sejumlah bumbu-bumbuan.

“Ini merupakan lokal genius, dimana bahan lokal ini diolah kemudian dijual kepada petani dalam rangka menjadikan Bali organik. Ini penting sekalai buat kami, dan juga petani lainnya dalam rangka terus mendorong penggunaan pupuk organik,” tuturnya.

Jelas Suparta, Agung Wijana yang juga merupakan HKTI Tabanan sudah melakukan itu dan terus berinovasi untuk menciptakan suatu produk bio pestisida dan bio urine yang lebih baik. Akuinya, setelah mengamati hasil dan proses pengolahan memang sangat menguntungkan dan berguna bagi HKTI, bahkan bagi para petani di Bali dan bagi pemerintah daerah.

Sambungnya, keuntungan bagi HKTI adalah berbangga bahwa HKTI Bali memiliki produk yang bagus dan bermanfaat dalam rangka ikut mendorong bagi kemajuan sektor pertanian di Bali nantinya. Sementara, keuntungan bagi pemerintah tidak usah jauh-jauh mencari pupuk organik, karena di Bali sendiri mampu memproduksi pupuk organik yang berkualitas baik, dan sari segi petani dengan adanya produksi pupuk ditingkat lokal, tentunya akan memudahkan dan menekan biaya bagi petani karena mudah untuk dijangkau.

“Terkait ini pula, DPD HKTI Bali akan merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk bisa ikut menopang usaha produksi. Meski, selama ini dalam produksinya sudah dibantu oleh kalangan kampus dan para ahli, hingga dari proyek Dikti dalam upaya pengembangan inovasi produk,” ujarnya.

Sementara  Pemilik CV Timan Agung yang juga Ketua HKTI Tabanan, AA Nyoman Wijana dalam kesempatan yang sama mengungkapkan, selama beberapa tahun terakhir produksi pupuk organik ini bisa mencapai hampir 7 ton per hari dalam bentuk pupuk padat, sedangkan dalam bentuk pupuk organik cair mampu produksi mencapai 5 ton per bulan atau 5 ribu liter. Perkembangannya selama ini cukup prospektif, tercermin dengan adanya peningkatan permintaan hingga 20 persen per tahun. Akuinya, itu juga yang kemudian membuat omzet usaha khusus untuk bersumber dari penjualan pupuk organik padat saja rata-rata mencapai Rp 150 juta per bulan.

“Selama ini permintaan pasar untuk pupuk organik semakin meningkat. Pangsa pasar tidak hanya ke kalangan petani saja, namun beberapa juga terserap melalui dinas Pertanian Provinsi dan kabupaten/kota, bahkan hotel dan vila,” tegasnya.(ad 0.178)