Inovasi dan Kualitas Material Jadi Ganjalan Perajin di Bali?

17

Perhiasan emas dan perak Bali selama ini merupakan salah satu komoditi unggulan di pasar ekspor. Menyikapi persaingan yang makin ketat dan selera pasar yang dinamis, perajin dituntut mampu menjaga kualitas material serta  inovatif menciptakan desain dan motif yang berdaya saing tinggi. Apakah inovasi dan kualitas material menjadi ganjalan?

PERHIASAN emas dan perak Bali keduanya merupakan produk kreatif hasil karya para perajin Bali yang memiliki latar belakang budaya Bali yang adiluhung. Inilah kekuatan dasar penciptaan desain dan motif tradisional Bali yang dikagumi dan diakui dunia. Tak terkecuali para kompetitor di pasar dunia. Mereka mengagumi  kekhasan desain dan motif perhiasan emas dan perak Bali tersebut karena tak ada duanya di dunia. Kendati demikian, bukan berarti para perajin boleh berhenti   beraktivitas. Namun justru dengan makin dikenal luasnya seni desain dan motif perhiasan Bali, merupakan tantangan tersendiri bagi perajin untuk terus berinovasi dan meningkatkan daya saing produk.

Sebab fenomena yang masih berkembang di sentra-sentra produksi perhiasan Bali, masih banyak perajin yang mengandalkan material lokal. Hal tersebut disebabkan relatif lemahnya permodalan para perajin sehingga tak bisa dengan optimal dan berkesinambungan mengakses material bermutu di PT Aneka Tambang (Antam) Jakarta yang hanya bisa dibeli dalam jumlah banyak dan mahal tentunya. Tak hanya material emas yang harusnya memanfaatkan material 22 atau 23 karat atau disebut material 91 persen yakni hasil kolaborasi 9 emas dan satu tembaga, untuk perak juga seharusnya menggunakan material Antam dengan kadar 295 karat. Kenyataannya, yang beredar di pasaran masih mendominasi perhiasan emas maupun perak dengan kadar di bawah itu alias lokal. Inilah salah satu kekhawatiran sebagian perajin yang sudah biasa bermain di pasar ekspor dengan munculnya ancaman dari para buyer kalau perhiasan emas Bali yang menarik dari sisi desain dan motifnya jadi turun kelas gara-gara material yang digunakan tak berstandar perdagangan internasional.

Perajin emas dan perak Sukawati, Gianyar, Nyoman Rupadana menyampaikan, perlu langkah bersama guna meninggikan daya saing produk perhiasan Bali di pasar ekspor. Tentu sangat disayangkan jika daya saing desain dan motif yang pilih tanding harus jatuh hanya karena lemah dari sisi pemanfaatan material. Dengan sinergi bersama perajin diyakini upaya mengakses material berstandar perdagangan dunia di PT Antam Jakarta dapat dilakukan secara berkesinambungan sehingga produktivitas industri perhiasan Bali juga lebih terjaga. “Menyikapi permintaan para buyer dalam jumlah besar dan waktu yang singkat tentu bukan saja perlu kesiapan material yang cukup juga pemotif yang mumpumlni dalam jumlah yang memadai karena produksi manual juga menjadi andalan industri perhiasan Bali untuk tetap eksis,” paparnya.  (gun)