Denpasar (Bisnis Bali) – Untuk kali pertama, Bali mampu mengekspor beras, di tengah rencana impor beras yang dilakukan pemerintah pusat. Hal ini membuktikan, meski dengan luas wilayah yang kecil, Bali sudah mampu berswasembada. Ekspor beras 11 ton beras merah ke Amerika Serikat (AS) tersebut membuktikan pertanian yang dikelola dengan baik akan mampu memberikan kesejahteraan lebih bagi petani.

I Wayan Sunarta, Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (DistanTP) Provinsi Bali,  atas seizin Kadis DistanTP, Kamis (8/2) kemarin memaparkan, ekspor beras merah ke Oakland tersebut merupakan hasil budi daya petani padi organik di Piling, Jatiluwih, Tabanan. “Untuk mencapai proses ekspor tersebut banyak tahapan yang harus dilakukan, seperti hasil pemeriksaan fisik dan kelengkapan dokumen yang menunjukkan beras merah tersebut bebas dari organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sehingga dapat diterbitkan phytosanitary certificate (PC Certificate) sebagai persyaratan ekspor komoditas pertanian. Selain itu juga telah dilakukan sertifikasi organik,” tuturnya.

Disampaikan Bali karena daerah kecil maka produksi pertanian difokuskan pada peningkatan nilai tambah, karena dari segi volume produksi Bali tidak bisa bersaing. “Kita genjot beras organik, beras merah, beras hitam untuk dikembangkan karena nilai jual lebih tinggi. Dengan demikian, pertanian dapat memberikan kesejahteraan bagi petani,” ungkapnya.

Untuk menggenjot ekspor, ia mengatakan pemda melalui DistanTP  membantu petani dalam bentuk teknologi. “Kita bekali petani dengan teknologi, bagaimana cara memproduksi yang benar, kemudian kita bantu untuk memperoleh sertifikasi organik. Kita juga bantu alat-alatnya, alat apa yang mereka perlukan agar semua sesuai standar untuk pengolahan makanan dan juga bagaimana cara pengepakan,” tandasnya.

Untuk potensi ekspor, Sunarta mengatakan sebenarnya cukup luas dan tidak terbatas pada petani Jatiluwih saja. Namun beras yang potensial untuk diekspor diakui adalah beras merah cendana seperti yang dikembangkan di Jatiluwih. Meski demikian untuk beras organik ini, sudah banyak dikembangkan di Bali seperti di Gianyar, Klungkung, Buleleng, Badung, Bangli.  (pur)