Selain terkenal akan objek wisata, Bali juga pernah dikenal memiliki bawang putihnya (kesuna) yang berkualitas tinggi bahkan varietas unggul. Namun sayangnya, produksi bawang putih tersebut kini telah menyusut tajam seiring dibuka lebarnya kran impor dari Tiongkok. Bagaimana Bank Indonesia Bali melihat kondisi ini dan apa upayanya menekan laju impor?  

KEBUTUHAN bawang putih di dalam negeri diprediksi mencapai 500 ribu ton namun yang bisa dipenuhi petani lokal hanya 20 ribu ton sehingga sisanya didatangkan dari negara luar mencapai 480 ribu ton.

Satu sisi kinerja perekonomian Bali tidak lepas dari perkembangan sektor pertanian, mengingat kontribusinya yang cukup besar atau menduduki peringkat kedua terbesar setelah sektor pariwisata. Dari sisi inflasi, andil produk pertanian juga sangat tinggi sebagaimana tercermin dari sumbangan kelompok volatile foods terhadap inflasi umum.

Namun, keberhasilan pengembangan sektor pertanian di Bali masih dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama terkait dengan kondisi cuaca, kualitas tanah dan isu alih fungsi lahan.

Komoditas bawang putih salah satunya. Pada zamannya, Bali pernah memiliki bawang putih dari kawasan Sanur yang berkualitas tinggi namun akhirnya tidak ada lagi petani yang menanamnya. Selanjutnya bawang putih banyak ditanam di Desa Wanagiri, Buleleng. Pada 2014 masih mengalami panen, tetapi pada 2015-2016 hilang. Walaupun ada yang menanam hanya tersisa satu hektar untuk konsumsi pribadi.

Terjadinya penurunan produksi bawang putih di Bali diprediksi karena harga tidak menarik saat keran impor dibuka.

Bawang putih lokal kalah bersaing dengan impor sementara harga bibit tergolong mahal, sehingga petani beralih ke produk pertanian lainnya.

Melihat kondisi ini Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali berusaha mengembalikan kejayaan bawang putih lewat pengembangan lahan percontohan untuk komoditas bawang putih di Desa Wanagiri, Kabupaten Buleleng. Diharapkan peluang usaha bawang putih yang “seksi” ini dapat memberdayakan petani setempat sehingga diharapkan dapat menjaga stabilitas harga.

Kepala KPw BI Bali Causa Iman Karana mengatakan,  dengan pengembangan ini juga diharapkan mengurangi impor bawang putih yang mencapai 90 persen sehingga beban devisa tidak tertekan. (dik)