Menristek Dikti Kagum dengan Inovasi ”Startup” STIKOM Bali

49
Menristekdikti Prof. Mohamad Nasir didampingi Koordinator Kopertis Wilayah VIII Prof. Dasi Astawa (paling kanan), Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti-induk STIKOM Bali-Prof. I Made Bandem (dua dari kiri),  Ketua STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan (paling kiri) dan Kepala Pusat Kerja Sama STIKOM Bali I Made Sarjana, SE., MM (dua dari kanan) serta Dirjen Kelembagaan Kemenristek Dikti Dr. Ir. Padtono Suwignjo, M. Eng.Sc. (tidak tampak dalam gambar) meresmikan co-working space Inkubator Bisnis STIKOM Bali, Jumat (2/2) lalu.

Denpasar (Bisnis Bali) – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti) Prof. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak mengungkapkan kekagumannya atas produk inovasi startup teknologi karya mahasiswa dan dosen STIKOM Bali.

“Saya sangat bangga bisa datang di STIKOM Bali. Kampusnya bagus, karya-karya mahasiswa  dan dosen yang tadi diperlihatkan bagus-bagus. Capain-capaiannya juga bagus dan bermanfaat bagi Indonesia. Bermanfaat bagi Indonesia lho,  tidak hanya bagi Bali,” kata Prof. Mohamad Nasir dalam kuliah umumnya dengan tema “Membangun Startup Menuju Revolusi Industri” di Kampus STMIK STIKOM Bali, Jumat (2/2) lalu.

Dalam kuliah umumnya di depan ratusan  mahasiswa dan dosen STIKOM Bali serta pengurus Yayasan Widya Dharma Shanti-induk STIKM Bali, Menteri Mohamad Nasir mengatakan, pada era disrupsi teknologi revolusi industri 4.0, terjadi perubahan signifikan. Antara lain dilihat dari keinginan masyarakat untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah lewat teknologi. Karenanya, menurut Nasir diperlukan banyak perusahaan pemula berbasis teknologi atau start up agar masyarakat zaman now dapat terpenuhi kebutuhannya.

Dikatakan, pada era revolusi industri 4.0 ini, peran start up akan semakin dibutuhkan seiring meningginya digitalisasi. “Jadi kalau mau buat start up, buatlah yang sesuai seperti zaman sekarang,” tukasnya.

Mohamad Nasir menilai, melihat perkembangan STIKOM Bali saat ini, STIKOM Bali bisa menjadi perguruan tinggi IT terbaik di Indonesia Timur bahkan menjadi perguruan tinggi kelas dunia. Sebagai perguruan tinggi IT,  Menristek Dikti menilai STIKOM Bali sangat siap memasuki era revolusi industri keempat (R-4), apalagi STIKOM Bali ternyata sudah melaksanakan blended learing atau pembelajaran jarak jauh menggunakan teknologi informasi.

Dikatakan Menteri Mohamad Nasir, revolusi industri keempat harus disiapkan dari sekarang dengan meningkatkan kemampuan teknologi informasi. “Kesiapan yang sudah dilakukan oleh STIKOM Bali terlihat dari start up-start up karya para mahasiswanya, seperti diperlihatkan tadi, saya sangat kagum,” kata Mohamad Nasir.

Sementara itu Ketua STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan menyampaikan, STIKOM Bali selain sangat maju dalam inovasi produk-produk teknologi, juga selalu menjunjung tinggi pelestarian seni dan budaya berbasis IT, sehingga banyak inovasi produk STIKOM Bali yang sangat bermanfaat untuk kelestarian seni dan budaya Bali.

“Saat ini STIKOM Bali memiliki empat program studi (prodi) yakni Prodi Sistem Informasi, Prodi Sistem Komputer, Prodi Manajemen Informatika dan Program International class bekerja sama dengan Help University Kuala Lumpur Malaysia,” kata Dadang Hermawan.

Sebelum memberikan kuliah umum, Menristek Dikti Mohamad Nasir didampingi Direktur Jenderal Kelembagaan Kemenristek Dikti Dr. Ir. Patdono Suwignjo, M.Eng.Sc., Koordinator Kopertis Wilayah VIII Bali-Nusra Prof. Dasi Astawa, Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti-induk STIKOM Bali Prof. I Made Bandem dan Ketua STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan  meresmikan Co-Working Space Inkubator Bisnis STIKOM Bali. (ad 0.150)