Pembangunan ekonomi di Bali belum mampu mengangkat kesejahteraan pelaku usaha di sektor pertanian seperti yang diharapkan oleh para petani dan keluarganya. Salah satu indikasinya adalah nilai tukar petani (NTP) yang tidak seimbang dengan kegiatan ekonomi nonpertanian selama ini. Apa upaya yang harus dilakukan?

KEMAJUAN sektor nonpertanian di Bali seperti pariwisata makin timpang dengan sektor pertanian sekarang ini. Sektor pariwisata sangat rentan ketika terjadi isu terorisme, bom dan bencana alam baik di Bali maupun di luar Pulau Bali. Selain itu, tantangan ke depan adalah makin menyusutnya lahan pertanian akibat pesatnya pertumbuhan ekonomi.

Penduduk yang berkecimpung di sektor pertanian adalah masih relatif tinggi dan potensi pengembangan lahan pertanian (tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan) sangat baik seiring dengan perbaikan teknologi pertanian.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra, Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA mengungkapkan, mengangkat pendapatan petani dibutuhkan terobosan baru di dalam membangun pertanian, khususnya yang berkenaan secara langsung dengan peningkatan kesejahteraan petani. Salah satu langkah yang cukup jitu dalam menangani masalah pertanian tersebut adalah meningkatkan daya saing petani yang berkaitan dengan adanya jaminan pendapatan yang memadai, jaminan keterkaitan usaha dengan sektor kegiatan ekonomi di luar pertanian, dan jaminan kelangsungan usaha, sehingga mampu mewujudkan pembangunan  pertanian yang berkelanjutan.

Berdasarkan pada langkah ini, dalam pengembangan pembangunan diperlukan adanya perubahan paradigma, yakni dengan menempatkan pembangunan pertanian sebagai basis utama dan sekaligus sebagai muara dari seluruh aspek kegitan pembangunan dengan dimensi pembangunan sumber daya manusia (petani).

Jelas Sedana yang juga Ketua HKTI Buleleng, sebagai negara agraris pembangunan sektor pertanian dalam arti luas, baik di tingkat nasional, regional maupun lokal hendaknya benar-benar menjadi basis dalam pembangunan dengan beberapa alasan yang sangat mendasar. Di antaranya adalah sebagai penyedia bahan pangan bagi keluarga petani dan nonpetani, pemanfaatan produk-produk yang dihasilkan oleh sektor nonpertanian, pendukung kebutuhan sektor nonpertanian, penyedia kesempatan kerja dan berusaha, dan lain sebagainya. (man)