Terintegrasi dalam persaingan pasar bebas baik Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) maupun Eropa,  tenaga kerja (naker) lokal/di daerah tak cukup hanya bertumbuh seiring tersedianya peluang kerja baru,  namun juga dituntut berkualitas. Kenapa?

BERSAING di era persaingan bebas naker lokal mutlak meningkatkan daya saing. Bertumbuhnya angkatan kerja baru mengikuti atau sinkron dengan kebutuhan atau ketersediaan lapangan kerja baru merupakan hal positif agar peran naker lokal dalam pembangunan lebih optimal. Seperti diketahui, Bali yang dikenal dengan kemasyuran pariwisatanya telah membuka berbagai peluang kerja baru. Ini tentu saja harus mampu diisi naker lokal dengan begitu tak perlu bersaing ke luar negeri menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI). Lebih-lebih saat ini naker luar Bali maupun asing juga tak kalah banyak membidik peluang kerja di daerah karena menjanjikan kesejahteraan yang lebih baik. Persoalannya sudahkah naker lokal terbilang berkualitas yang salah satunya dapat dilihat dari posisi atau bidang kerja yang ditempati? Jika hanya jadi naker bawahan/kerja serabutan sementara naker asing lebih banyak  berhasil menduduki top management di satu industri atau perusahaan baru tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi naker lokal meningkatkan daya saing. Salah satunya mereka wajib memiliki sertifikat kompetensi sehingga bisa disebut naker kompeten atau mumpuni.

Menyimak data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali  jumlah angkatan kerja di Bali pada Februari 2017 mencapai 2.469.104 orang, bertambah 86.638 orang dibandingkan angkatan kerja Februari 2016 (2.382.466 orang), atau bertambah 6.065 orang dibandingkan angkatan kerja Agustus 2016 (2.463.039 orang).

Dengan begitu  jumlah penduduk yang bekerja di Bali pada Februari 2017, mencapai 2.437.494 orang, bertambah 105.430 orang dibandingkan  Februari 2016 (2.332.064 orang), atau bertambah 20.939 orang dibanding keadaan pada Agustus 2016 (2.416.555 orang). (gun)