Pasar Properti Mati Suri, Pedagang Genteng Kelimpungan

15
 Pasar properti  yang mati suri di Karangasem, menyebabkan pemasaran bahan bangunan, khususnya genteng juga anjlok. (ist)

Amlapura (Bisnis Bali) – Pasar properti  yang mati suri di Karangasem, menyebabkan pemasaran bahan bangunan, khususnya genteng juga anjlok. Pengusaha atau pedagang genteng pun kelimpungan. Hal itu disampaikan salah seorang pedagang genteng, I Made Mustika, Jumat (26/1) di Karangasem.

Mustika asal Tabanan itu mengatakan, sejak anjloknya pasar properti setelah kenaikan aktivitas Gunung Agung September lalu, otomatis menyebabkan pemasaran genteng juga jauh menurun. ‘’Pembangunan properti dan rumah nyaris tak ada, ya permintaan genteng juga jarang. Lihat saja di toko kami, kalau dulu dalam 30 menit, pasti ada orang datang untuk membeli genteng. Saat ini sepi terus,’’ katanya.

Sepinya pemasaran genteng, ditambah lagi kendala pada musim hujan ini, yakni buruh penggali tanah liat untuk bahan genteng di Pejaten, Tabanan, enggan bekerja. Selain itu, kata Mustika pemilik UD Genteng Pres Pejaten itu,  harga tanah liat juga meningkat tajam. Dulu, per 3 meter kubik seharga Rp 450 ribu, kini menjadi Rp 750 ribu. Dengan kenaikan harga tanah liat sebagai bahan genteng, ditambah ongkos buruh pencetak genteng meningkat, menyebabkan harga genteng harus dinaikkan.

Namun, ketika harga genteng per biji naik, pembeli atap genteng baru berkurang, dan mereka kerap memilih membeli atau menggunakan gentang untuk atap menggunakan genteng bekas. ‘’Setelah kenaikan aktivitas Gunung Agung, semuanya serba sulit. Orang membangun tak ada, karena melihat situasi, sehingga pemasaran bahan bangunan juga jarang,’’ katanya.

Mustika mengatakan, pihaknya menjual genteng pres pejaten di sekitar kota Amlapura, Rp 14 ribu per biji, karena harga di produsen di Tabanan mencapai Rp 13 ribu per biji. Biaya pengangkutan dari Pejaten Tabanan ke Karangasem lumayan tinggi. ‘’Saya, kalau mengirim genteng ke pembeli di atas 5.000 biji, barulah dapat untung. Kalau di bawah itu, apalagi mengirim jauh di luar kota seperti ke Kubu,  malah norok untuk biaya pengangkutan dan ongkos buruh,’’ kata Mustika yang sudah puluhan tahun berdagang genteng itu. (bud)