Pemerintah memutuskan untuk mengimpor garam industri 3,7 juta ton untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Garam impor ini rencananya dimanfaatkan oleh lebih dari 100 perusahaan yang bergerak di sektor seperti petrokimia, kaca, lensa, hingga makanan dan minuman. Ironisnya, impor garam ini dilakukan bukan untuk kali pertama. Lalu bagaimana produksi garam di Bali saat ini?

INDONESIA yang memiliki kepulauan sangat luas ternyata setiap tahun mengimpor garam, sama seperti halnya impor beras. Ironisnya, tahun ini jumlah impor garam cukup fantastis, mencapai 3,7 juta ton. Salah satu alasan impor garam adalah harga garam di dalam negeri relatif tinggi sebagai akibat dari turunnya produksi petani dan pengusaha garam di dalam negeri, sehingga berdampak pada ketimpangan antara produksi dan konsumsi.

Bali sebagai provinsi yang memiliki garis pantai cukup luas merupakan potensi bagi usaha pertanian garam selama ini. Sayangnya, minimnya keberpihakan pemerintah pada sektor tersebut membuat ada kecenderungan jumlah pelaku usaha petani garam mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Terbukti, saat ini hanya beberapa kabupaten yang masih eksis sebagai sebagai sentra produksi garam. Itu pun dengan jumlah pelaku usaha yang mulai mengalami penurunan saat ini.

Menurut Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra, Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA, pemerintah tampaknya lebih menyukai impor dibandingkan meningkatkan produksi garam di dalam negeri. Jika produksi garam yang rendah diakibatkan oleh kemampuan petani garam yang rendah, sudah sepantasnya dilakukan upaya yang intensif dan serius untuk memberdayakan petani garam.

“Penciptaan teknologi untuk peningkatan produksi perlu dilakukan, dan diintroduksikan kepada petani garam di sentra-sentra penghasil garam,” tandasnya.

Menurut Sedana yang juga Ketua HKTI Buleleng, informasi dari data Dinas Kelautan dan Perikanan Bali, kebutuhan garam di Pulau Dewata mencapai 600 ton dalam satu bulan atau sekitar 7.200 ton dalam setahun. Sementara produksi garam di Bali selama 5 tahun terakhir berfluktuasi. Pada 2012 jumlah produksi garam mencapai 6.514,72 ton, kemudian pada 2014 menjadi 4.982,71 ton, sedangkan pada 2014 sejumlah produksi 7.889,52 ton. Pada tahun berikutnya (2015) jumlah produksi garam di Bali naik menjadi 11.554,59 ton dan pada 2016 turun lagi menjadi 10.790,22 ton.Tahun lalu, produksi garam terbanyak di Kabupaten Buleleng mencapai 8.672,47 ton, disusul posisi kedua di Kabupaten Karangasem 976,86 ton dan Kota Denpasar 700,5 ton pada posisi ketiga, sedangkan lima kabupaten lainnya dengan jumlah produksi relatif sedikit. (man)