Tabanan (Bisnis Bali) – Memiliki harga jual hasil panen yang lebih mahal dibandingkan dengan konvensional, namun hingga kini sejumlah petani padi di Kabupaten Tabanan masih enggan mengadopsi penggunaan pupuk organik.

Tahun ini pemerintah pusat mengalokasikan 4.500 ton pupuk organik bersubsidi, bahkan ditambah juga dengan alokasi hingga 6.000 hektar untuk subsidi pupuk ganda.

Kepala Bidang Pengembangan Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Gst. Putu Wiadnyana, di Tabanan, Selasa (23/1) mengungkapkan, dinas pertanian terus menggenjot peningkatan penggunaan pupuk organik di kalangan petani. Sebab,  hingga kini ada kecendrungan penggunaan pupuk organik di kalangan petani masih kecil.

Padahal, keberpihakan pemerintah untuk pengembangan pertanian organik cukup tinggi, karena selain alokasi setiap tahunnya melalui pupuk bersubsidi, petani juga dialokasikan pupuk subsidi ganda yang alokasinya untuk di Kabupaten Tabanan mencapai 6.000 hektar.

“Kesadaran di petani untuk memanfaatkan pupuk organik, khususnya di petani padi agak kurang. Berbeda halnya jika di hortikuktura, disektor tersebut malah meminta untuk diberikan alokasi pupuk organi. Sebab, salah satu kebutuhan dasar di pertanian hortikulturan adalah pupuk organik,” tuturnya.

Jelas Wiadnyana, masih minimnya petani padi ini melirik pupuk oranik karena ada kecendrungan mereka (petani) ingin melihat hasil aplikasi yang diberikan ke tanaman dalam jangka waktu yang singkat. Contohnya, ketika hari ini menggunakan aplikasi pupuk urea, maka hasilnya sudah mulai terlihat dalam kurun waktu 4-5 hari ke depan. Akuinya, kondisi tersebut tentu tidak bisa diperoleh petani ketika menggunakan pupuk organik. (man)