Singaraja (Bisnis Bali) – Kabupaten Buleleng terkenal akan potensi pertaniannya, khususnya buah – buahan. Namun sektor pertanian di Kabupaten Buleleng masih menjumpai beberapa kendala seperti pemasaran, sehingga ketika memasuki panen raya dan terjadi over produksi, petani terpaksa harus menjual hasil panennya jauh di bawah harga pasar.

Seperti halnya petani anggur hijau di Kecamatan Grokgak, Kabupaten Buleleng, budi daya anggur hijau yang sudah berjalan selama tujuh tahun ini memang memiliki potensi yang sangat menjanjikan, namun tidak dapat dipungkiri potensi ini tidak diimbangi dengan pemasaran yang memadai.

Budi daya anggur hijau ini berhasil dikembangkan hampir 100 hektar. Namun, dengan kondisi yang seharusnya berdampak baik bagi petani, justru berbanding terbalik. Petani anggur hijau mengalami kesulitan pemasaran pada masa panen. Harga anggur hijau yang seharusnya mampu dijual dengan harga Rp 7.500 per kg di tingkat petani, kini petani terpaksa menjual dengan harga Rp 3.500 per kg. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir kerugian yang makin parah. Hal itu diungkapkan Jro Mangku Putu Suarjana, salah seorang petani anggur hijau dari Kecamatan Gerokgak, Buleleng.

Ia mengatakan, untuk penanganan pascapanen yang sudah over produksi ini dirinya melakukan penjualan anggur hijau melalui media sosial, mengingat bisnis online saat ini dipandang mampu memiliki nilai jual lebih. Dibantu anaknya, Putu Ria Yuliantari sebagai penyalur anggur hijau, dirinya memanen buah anggur dan mengkemas dengan plastik per satu kg kemudian disalurkan kepada pemesan. “Ini saya lakukan untuk mengatasi panen anggur hijau yang melimpah harga yang dijual melalui online justru bisa lebih tinggi,” ungkapnya.  (ira)