POPULASI sapi Bali ada kecenderungan menurun, akibat adanya alih fungsi lahan. Adanya pergeseran pertanian dari tradisional ke mekanisasi sehingga sapi sebagai pekerja tidak dibutuhkan lagi. Meski demikian, pendiri dan pembina Kelompok Tani Ternak Satwa Winangun, Desa Tangkas Klungkung,  I Ketut Darmawan, SPT mengatakan, pengembangan sapi Bali menjanjikan keuntungan besar bagi petani.

Sapi Bali memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan jenis sapi lainnya, karena populasi sapi Bali mulai menurun pemerintah bahkan melarang perdagangan sapi Bali keluar wilayah Bali. Selama ini petani memelihara sapi hanya sebagai sambilan dan tidak dikelola dengan baik. Jika dikembangkan secara intensif dapat menjanjikan keuntungan besar bagi petani ternak.

Darmawan menuturkan, pengembangan sapi Bali di Desa Tangkas, Klungkung sudah di mulai sejak 2004. “Saat itu kami punya program anak muda kembali ke desa dengan menggunakan sektor peternakan. Kami mencoba mengembangkan sapi Bali awalnya hanya 10 ekor, karena masyarakat tertarik dan banyak juga yang menganggur akhirnya 2005 kami bentuk kelompok tani ternak Satwa Winangun dan mengembangkan sapi Bali secara intensif,” tuturnya.

Pada tahun pertama, diakui, memang banyak kendala yang dihadapi terutama masalah reproduksi, pemilihan bibit dan manajemen kesehatan hewan. Seiring dengan adanya pembinaan dari Dinas Peternakan, ia dan masyarakat mampu mengembangkan sapi Bali secara intensif dan berkesinambungan dengan mendirikan pusat pembibitan sapi Bali, sebagai penyangga Bali yang merupakan pusat sapi Bali. (pur)