Determinan Kinerja Karyawan Industri Tenun Ikat di Kabupaten Klungkung Oleh : Dr. Drs. I Wayan Gde Sarmawa, MM

50

Pemerintah sejumlah negara sedang berkembang mengakui pentingnya keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), karena memiliki peran penting dalam membantu pertumbuhan ekonomi. UMKM berperan dalam  memaksimalkan  efisiensi pengalokasian dan pendistribusian sumber-sumber lokal, baik tenaga kerja maupun sumber daya alam yang ada, termasuk meningkatkan kesempatan kerja, pemerataan pendapatan, pembangunan ekonomi pedesaan, serta peningkatan ekspor non-migas. Di Indonesia, 99,99% dari usaha yang ada tergolong ke dalam UMKM. Paparan ini mempertegas pentingnya peranan UMKM dalam pembangunan perekonomian suatu negara, sehingga perlu diberikan dorongan yang kuat, agar UMKM dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Menurut kajian BPS (2014), UMKM di Bali memiliki peran sangat vital dalam pembangunan ekonomi Bali,  meskipun masih banyak kendala yang dialami dalam menjalankan usahanya. Diantaranya keterbatasan permodalan, kesulitan bahan baku, kesulitan pemasaran, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Pemerintah telah turun tangan dalam mengatasi permasalahan ini melalui sejumlah kebijakan seperti bidang permodalan melalui Kredit Usaha Kecil (KUK) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Di bidang pemasaran, pemerintah menyediakan ruang dalam sejumlah pameran, dan dibidang SDM pemerintah menyediakan sejumlah pendidikan dan latihan untuk meningkatkan keterampilan SDM. Namun, hal ini belum mampu secara tuntas mengatasi permasalahan pada UMKM, sehingga masih banyak yang tidak mampu berkembang dengan baik.

Salah satu diantara UMKM di Bali yang tidak berkembang dengan baik, adalah industri tenun ikat,  padahal produk-produknya sangat terkenal secara lokal, nasional, bahkan internasional (BPS, 2014). Kondisi ini dimungkinkan disebabkan kinerja karyawan industri tenun ikat rendah, karena sebagian besar karyawan mengerjakan pekerjaan di rumahnya sendiri. Hal ini dibenarkan sejumlah pengusaha (pemilik usaha) tenun ikat dalam sejumlah wawancara yang dilakukan oleh peneliti. Kepemimpinan diri (self-leadership) dan budaya kerja yang rendah sebagai salah satu penyebab rendahnya kinerja karyawan tersebut. Selain itu, motivasi kerja dan kepuasan kerja karyawan, juga kurang memberi dukungan yang maksimal pada kinerja karyawan tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh langsung: 1) self-leadership terhadap motivasi kerja, 2) self-leadership terhadap kepuasan kerja, 3) self-leadership terhadap kinerja, 4) budaya kerja terhadap motivasi kerja, 5) budaya kerja terhadap kepuasan kerja, 6) budaya kerja terhadap kinerja, 7) motivasi kerja terhadap kepuasan kerja, 8)motivasi kerja terhadap kinerja, 9) kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan industri tenun ikat di Kabupaten Klungkung. Penelitian ini juga bertujuan mengetahui peran: 10) motivasi kerja memediasi hubungan self-leadership terhadap kinerja, 11)  motivasi kerja memediasi hubungan budaya kerja terhadap kinerja, 12) motivasi kerja dan kepuasan kerja memediasi hubungan self-leadership terhadap kinerja, 13) kepuasan kerja memediasi hubungan budaya kerja terhadap kinerja, 14) motivasi kerja memediasi hubungan budaya kerja terhadap kinerja, 15) motivasi kerja dan kepuasan kerja memediasi hubungan budaya kerja terhadap kinerja.

Penelitian ini dilakukan untuk mencari jawaban permasalahan penelitian tentang bagaimana pengaruh variabel eksogen yaitu self-leadership dan budaya kerja terhadap variabel endogen yang terdiri dari motivasi kerja, kepuasan kerja, dan kinerja karyawan. Pengumpulan data dilakukan dengan mempergunakan kuesioner, kemudian data tersebut tabulasi, diolah dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif dilakukan dengan program SPSS, sedangkan analisis inferensial dilakukan dengan program SmartPLS 3.0.

Penelitian ini dilaksanakan pada UMKM khusus pada industri tenun ikat di Kabupaten Klungkung yang terdaftar pada Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali tahun 2015.  Berdasarkan data tersebut, Kabupaten Klungkung menunjukkan, jumlah terbanyak baik dari segi jumlah perusahaan maupun jumlah tenaga kerjanya, yaitu sebanyak 55 perusahaan dengan 1.082 tenaga kerja.

Simpulan dari penelitian :

1) Self-leadership karyawan tenun ikat di Klungkung menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap motivasi kerja.

2) Self-leadership karyawan tenun ikat di Klungkung menunjukkan pengaruh tidak signifikan terhadap kepuasan kerja.

3) Self-leadership karyawan tenun ikat di Klungkung menunjukkan pengaruh yang positif signifikan terhadap kinerja karyawan.

4) Budaya kerja karyawan tenun ikat di Klungkung menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap motivasi kerja.

5) Budaya kerja juga mempengaruhi kepuasan kerja karyawan tenun ikat di Klungkung.

6) Budaya kerja karyawan tenun ikat di Klungkung menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja karayawan.

7) Motivasi kerja karyawan tenun ikat di Klungkung menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja.

8) Motivasi kerja karyawan tenun ikat di Klungkung menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.

9) Kepuasan kerja karyawan tenun ikat di Klungkung menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.

10) Motivasi kerja karyawan tenun ikat di Klungkung berperan sebagai pemediasi parsial pada pengaruh self-leadership terhadap kinerja karyawan.

11) Kepuasan kerja tidak berperan sebagai pemediasi pengaruh self-leadership terhadap kinerja karyawan.

12) Motivasi kerja dan kepuasan kerja karyawan pada industri tenun ikat di Klungkung secara bersama-sama berperan sebagai pemediasi secara parsial pada pengaruh self-leadership terhadap kinerja karyawan.

13) Motivasi kerja berperan sebagai pemediasi secara parsial pengaruh budaya kerja terhadap kinerja karyawan.

14) Kepuasan kerja berperan sebagai pemediasi secara parsial pengaruh budaya kerja terhadap kinerja karyawan.

15) Motivasi kerja dan kepuasan kerja secara bersama-sama berperan sebagai pemediasi pengaruh budaya kerja terhadap kinerja karyawan.

Peneliti memberikan saran untuk karyawan tenun ikat di Klungkung :

1) Karyawan perlu mengatur waktu kerja secara lebih baik. Pimpinan perusahaan perlu memberikan arahan kepada karyawan-karyawannya agar belajar menetapkan pekerjaan yang harus diselesaikan, memotivasi karyawan supaya berusaha menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, menumbuhkan keyakinan karyawan bahwa setiap permasalahan pekerjaan dapat terselesaikan dengn baik.

2) Budaya kerja yang selama ini telah diterapkan secara kuat, perlu dipertahankan dan ditingkatkan.

3) Motivasi kerja karyawan secara umum tergolongi cukup kuat, hal ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan.

4) Kepuasan kerja secara umum tergolong puas, namun hal ini masih memungkinkan dapat ditingkatkan melalui peningkatan indikator-indikator yang memiliki skor dibawah rata-rata pada umumnya. Peningkatan kepuasan kerja karyawan dapat dilakukan dengan mengupayakan peningkatan kesenangan karyawan terhadap pekerjaan, dan memberikan variasi pekerjaan yang lebih beragam.(ad 0073)