Hingga kini, agen pemegang merek (APM) roda empat, baik produk Jepang, seperti mobil Toyota, hingga produk non-Jepang, seperti  Eropa (Chevrolet), hingga mobil Korea (Kia) masih berpeluang menggaet pengusaha taksi sebanyak-banyaknya di Bali, karena ada peremajaan armada taksi oleh perorangan maupun pengusaha taksi. Apa dampaknya?

JUMLAH taksi yang beredar di Bali sudah cukup memadai. Meski demikian, banyak di antaranya dinilai tidak layak beroperasi.

Armada taksi yang sudah tidak layak wajib diremajakan. Peremajaan akan berpengaruh terhadap tingkat keselamatan para pengguna jasa transportasi tersebut. Selain itu, beroperasinya taksi-taksi tak layak hanya menambah tingkat kemacetan di Bali.

Menurut Kepala Cabang Auto 2000 Denpasar, Haris Prasetya, hingga kini peremajaan armada taksi tetap ada, terutama dari pebisnis taksi perorangan. Pebisnis taksi melakukan peremajaan setiap 5 tahun, yang membuat pasar mobil jenis sedan taksi kian tumbuh. ‘’Kendati permintaan sedan taksi seperti Toyota Vios masih bisa dihitung dengan jari per bulannya, namun kami tetap bersyukur permintaan tetap mengalir hingga kini,’’ ujarnya.

Katanya, kalau bodi taksi sudah usang, mana mungkin ada penumpang yang mau naik. “Jika perusahaan taksi yang baik, sudah pasti segera meremajakan karena otomatis akan meningkatkan pendapatan,” ungkapnya.

Lanjutnya, perusahaan taksi seharusnya bisa memberikan rasa aman, nyaman, dan ketepatan. Dengan layanan yang kian profesional, ia meyakini akan lebih banyak orang yang menggunakan jasa taksi untuk kebutuhan bisnis, kerja, rekreasi, maupun personal. (aya)