KEBUN anggrek di Desa Abang, Karangasem mulai terkena abu vulkanik sehingga petani anggrek harus melakukan perawatan ekstra. Meski demikian, Sri Laba, petani anggrek mengatakan intensitas abu masih dapat ditoleransi oleh tanaman meski harus terus dibersihkan.

Desa Abang berjarak 13 kilometer dari Gunung Agung, sehingga dampak abu vulkanik sudah mulai dirasakan. “Tanaman anggrek tergolong agak sensitif dengan kondisi lingkungan dan membutuhkan perawatan khusus. Dengan adanya abu vulkanik ini, kami harus melakukan perawatan ekstra,” tuturnya.

Abu vulkanik sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman anggrek. Bila dibiarkan tanaman akan layu dan mati, sehingga setiap saat tanaman harus dibersihkan dari abu vulkanik dengan cara disiram. “Pembersihan abu vulkanik ini memang mengakibatkan biaya tambahan untuk perawatan tanaman. Tetapi ya tetap harus kami lakukan, agar tanaman tidak mati,” tandasnya.

Tanaman anggrek tergolong tanaman hias yang paling banyak peminatnya. Selain dapat ditanam di taman, anggrek juga sangat cocok untuk menghias ruangan sehingga permintaan sangat banyak. “Harga anggrek juga sangat stabil, tidak seperti tanaman hias lainnya yang bisa melambung tinggi lalu jatuh bahkan tidak ada peminatnya,” ucapnya.  (pur)