Tabanan (Bisnis Bali) – Kendati ada kebijakan pusat per 6 Januari 2018 harga rumah murah bersubsidi dari pemerintah mulai naik 5 persen, sebagian pemasok perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tersebut masih menerapkan harga sebelumnya yakni Rp 141 juta per unit, belum mengikuti harga baru yakni Rp 148,5 juta. Informasi yang diperoleh dari Fenny, bagian markerting salah satu perusahaan properti yang mengembangkan rumah bersubsidi  Perum Graha Citra Lestari di kawasan Selemadeg Tabanan, Kamis (11/1) kemarin menyampaikan, harga rumah bersubsidi masih Rp 141 juta. Adapun fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) Bank Tabungan Negara (BTN) yang digunakan bagi konsumen menawarkan suku bunga 5 persen per tahun, dengan tenggang waktu kredit mulai 5 – 25 tahun. Dengan fasilitas ini, di tengah belum membaiknya perekonomian namun kebutuhan akan rumah/backlog makin tinggi, program rumah bersubsidi ini diharapkan tetap jadi pilihan MBR.

Dari model rumah dan rincian angsuran KPR yang ditunjukkan memberi peluang dan kemudahan bagi MBR karena dengan plafon kredit 141 juta konsumen bisa mengangsurnya selama 25 tahun dan per bulannya  hanya berkewajiban membayar sekitar Rp 800 ribu lebih. Ini tentu sangat ringan bagi MBR karena uang muka yang mereka harus setorkan juga relatif rendah yakni, Rp 7 juta saja.

Sebelumnya, pengembang Perum Citra Nirwana Regency, Titin Muslich yang juga mengembangkan rumah bersubsidi menyampaikan, kendati tampak mudah MBR juga harus memenuhi sejumlah persyaratan untuk bisa mengakses rumah murah dengan skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) ini. Misal mereka belum pernah punya rumah, gaji maksimal Rp 4 juta per bulan, dan persyaratan administrasi lainnya yang bisa diakses di BTN.  (gun)