Kemacetan Jadi Momok, Ubud mulai ”Berbenah”

37
Rangkaian uji coba penataan parkir dan arus kendaraan di beberapa ruas jalan di Ubud. (kup)

Sebagai kawasan pariwisata internasional, Ubud dihadapkan dengan persoalan kemacetan lalu lintas. Ini menyebabkan ketidaknyamanan wisatawan berwisata di kawasan pariwisata Ubud. Sejauhmana pemberlakuan larangan parkir di badan jalan akan mampu membebaskan pariwisata Ubud dari masalah kemacetan?

UNTUK mengatasi kemacetan diperlukan sebuah langkah besar dan nyata sebagai perwujudan beberapa ide, skema dan rekomendasi hasil studi oleh beberapa kalangan terkait kemacetan di Ubud. Penanganan kemacetan di Ubud di antaranya menggunakan hasil kajian ITB dan Litbang Perhubungan Pusat, serta kajian para ahli yanga lain.
Kepala Dinas Perhubungan Gianyar Wayan Arthana mengatakan, persoalan utama yang mengakibatkan kemacetan di kawasan pariwisata Ubud meliputi parkir kendaraan di badan jalan di seluruh jaringan jalan di Ubud. Untuk itu, secara intensif dan kontinyu terus diupayakan untuk mengatasi persoalan tersebut.
Dipaparkannya, salah satu upaya yang dilakukan dengan sistem parkir dan berkendaraan. Sistem ini diterapkan di Ubud untuk melancarkan lalu lintas.
Untuk menangani permasalahan kemacetan di Ubud, Pemkab Gianyar telah membentuk Tim Percepatan Penanggulangan Permasalahan Lalu Lintas dan Kebersihan di Kawasan Pariwisata Ubud. Tim ini akan menangani masalah kemacetan yang berakibat terjadinya penurunan peringkat Ubud pada tingkat terendah dari beberapa tahun belakangan ini.
Pemkab Gianyar, Pemprov Bali, Pemerintah Pusat bersama masyarakat Ubud bersepakat melakukan penataan lalu lintas dengan memberlakukan larangan parkir di semua badan jalan di wilayah Ubud. Penerapan larangan parkir sudah mulai diberlakukan saat penurunan kunjungan wisatawan ke Ubud karena erupsi Gunung Agung.
Ini ibarat “bencana membawa berkah”. Ketika terjadi penurunan kunjungan dan lalu lintas lengang, Dishub memberlakukan larangan  parkir di badan jalan. Ketika kunjungan wisatawan mulai pulih, masyarakat dan pelaku pariwisata serta wisatawan bisa menyesuaikan dengan aturan larangan parkir di badan jalan.
Arthana menyampaikan, secara detail 11 Desember 2017 berdasarkan surat no.800/1073/Dishub,  telah dimulai penataan dengan melakukan uji coba di seluruh jaringan jalan di Ubud dan diperluas lagi dengan menambah 11 ruas jalan baru (surat No.800/1094/Dishub) yang diujicobakan pada 18 Desember 2017 dengan target efektif berlaku hingga awal Januari ini.
Uji coba tersebut diberlakukan ketentuan mulai pukul 06.00 wita, mobil bus besar (kapasitas di atas 25 tempat duduk) dilarang memasuki kawasan pariwisata Ubud mulai dari persimpangan Pengosekan dan persimpangan Br. Kalah Peliatan (sisi selatan) Persimpangan Br. Ambengan (sisi timur) dan persimpangan Kedewatan (sisi utara). Mobil sedang (kapasitas maksimum 25 tempat duduk)  hanya diperbolehkan masuk kawasan pariwisata Ubud sampai parkir sentral, Monkey Forest dan Pura Dalem Puri. Mobil bus kecil (kapasitas kurang dari 15 tempat duduk) diperbolehkan memasuki Ubud hanya untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Larangan parkir di badan jalan dan trotoar berlaku untuk seluruh jenis kendaraan pada seluruh ruas jalan di kawasan pariwisata Ubud dan sekitarnya, kecuali untuk menurunkan dan menaikkan penumpang dan barang pada tempat-tempat yang ditunjuk dan pada waktu- waktu yang ditentukan. (kup)