Naik 5 Persen, Animo MBR Beli Rumah Subsidi makin Terancam

104
 RUMAH - Rumah subsidi segera  naik. Ini tantangan bersama baik pengembang maupun MBR agar program rumah murah yang disebut-sebut pro-rakyat kecil ini justru makin jauh dari harapan. 

RUMAH murah bersubsidi yang selama ini dipatok harganya Rp 141 juta, cukup mendapat apresiasi positif dari kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Hal itu karena program rumah murah tersebut bukan saja menawarkan uang muka relatif rendah, juga layanan  kredit dengan bunga rendah dalam skema  fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). Namun demikian, mulai 6 Januari 2018 harga rumah bersubsidi akan naik sebesar lima persen. Bagaimana animo MBR untuk memiliki rumah murah idaman mereka? Berikut laporannya

Program nasional pembangunan sejuta rumah salah satunya bertujuan mengatasi backlog yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Dengan mengadakan rumah murah atau bersubsidi, diharapkan MBR bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka yakni memiliki rumah yang layak huni dan nyaman. Data nasional menyebutkan, hingga September 2017, rumah subsidi yang telah dibangun mencapai 623.444 unit. Pasokan tersebut di antaranya rumah untuk MBR 518.964 unit dan non-MBR 104.650 unit.

Dibandingkan realisasi pada 2015 ketika pencanangan awal program ini oleh Presiden RI (Joko Widodo) kurang lebih 699.000, sedangkan tahun lalu 815.000. Sementara rata-rata kebutuhan rumah setiap tahunnya mencapai 800.000 unit dengan kemampuan pasokan yang hanya sekitar 400.000 unit.

Sementara itu, hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016 memperlihatkan angka kebutuhan perumahan atau backlog kumulatif menjadi sebesar 11,4 juta unit. Data sebelumnya, berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, kebutuhan rumah mencapai 13,5 juta unit. (gun)