Tabanan (Bisnis Bali) – Bali menjadi salah satu penyumbang ekspor untuk komoditi manggis di tingkat nasional selama ini. Meski begitu, sayangnya hingga kini pulau dewata masih minim jumlah pakcing house yang teregistrasi, padahal registrasi menjadi sayarat mutlak untuk bisa mengekspor langusung ke negara tujuan.

Ketua Asosiasi Manggis Indonesia yang sekaligus petani manggis, Jero Putu Tesan, di Desa Padangan, Kecamatan Pupuan Tabanan, Jumat (5/1) mengungkapkan, hingga kini dari tiga pakcing house yang memiliki potensi untuk kantongi registrasi sebagai persayaratan ekspor, dari jumlah tersebut hanya satu yang sudah mengantongi pakcing house tergistrasi. Di sisi lain imbuhnya, untuk sekala nasional pakcing house yang sudah teregistrasi sudah ada sebelas unit.
“Mungkin selama ini mereka (pakcing house) yang belum teregistrasi tersebut tidak menggunakan registrasi gudangnya sendiri, melainkan menggunakan registrasi gudang di luar daerah,” tuturnya.

Jelas Tesan, masih minimnya pakcing house yang mengantongi registrasi ekspor ini diduga belum paham terkait regulasi yang ada, karena ada kemungkinan mereka (pengusaha tersebut) cendrung dipermudah selama ini. Padahal katanya, dengan megantongi resgitrasi, pakcing house bersangkutan akan bisa menghemat biaya ekspor, karena tidak membutuhkan pihak ketiga yang sudah mengantongi registrasi untuk bisa mengekspor langsung ke negara tujuan. (man)