Denpasar (Bisnis Bali) –  Tas daur ulang yang terbuat dari sampah plastik, khususnya pembungkus kopi instan ternyata semakin diminati oleh masyarakat. Dari segi penampilan, tas daur ulang ini memang tidak terlihat terbuat dari sampah plastik.

Tingginya minat masyarakat terhadap tas daur ulang ini terlihat dari banyaknya hasil karya anak-anak pengungsi Gunung Agung di Gor Kompyang Sujana Denpasar, yang dibeli masyarakat. Untuk mengisi waktu saat mengungsi, anak – anak pengungsi tersebut dilatih mengolah sampah plastik terutama dari pembungkus kopi instan dijadikan tas bernilai ekonomi oleh Juminah, salah seorang pekerja sosial masyarakat (PSM) Kota Denpasar di bawah naungan Dinas Sosial Kota Denpasar dan Kementerian Sosial RI.

Sampah plastik yakni pembungkus kopi instan yang biasanya di buang begitu saja ternyata mampu dijadikan barang yang bermanfaat. Selain ikut peduli terhadap lingkungan, sampah pembungkus kopi instan memiliki nilai ekonomi jika dikelola maksimal.  Seperti beragam tas cantik yang dibuat anak – anak pengungsi Gunung Agung tersebut, semuanya berasal dari sampah plastik yang di kemas apik menjadi tas wanita.

Selain tas untuk dibawa ke pasar, ada pula tas slempang cantik, tempat tisu, serta keben dari bahan sampah plastik. Para pengungsi yang sejak berada dipengungsian Oktober 2017 lalu, telah dibekali dengan keterampilan yang bisa bermanfaat bagi mereka kedepan sekaligus menyelamatkan lingkungan. “Dengan memberikan pelatihan mengolah sampah menjadi barang bernilai ekonomis kami berharap 2020 Bali bebas sampah plastik.  Selain itu kami juga berupaya mengedukasi masyarakat untuk mengurangi penggunaan tas plastik,” tukasnya.  (pur)