Catatan Akhir Tahun 2017 Ekspor Bersaing, Kualitas SDM UMKM makin Vital

66

Berbagai produk kerajinan yakni aksesori, kain rajutan, dan lainnya yang dihasilkan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Bali selama ini cukup diandalkan dalam persaingan ekspor. Namun seiring dinamika persaingan pasar ekspor yang makin berkembang pesat khususnya pada 2017, pelaku UMKM pun makin dituntut kesiapannya dalam berbagai hal. Apa saja itu?

SALAH satu indikator penting yang harus ditingkatkan UMKM yakni kemampuan sumber daya manusia (SDM). Karena itu, pendidikan dan pelatihan baik dalam hal manajemen UMKM hingga produk merupakan hal vital. Dengan SDM yang andal, produk-produk yang dihasilkan dari waktu ke waktu akan lebih inovatif sehingga mampu memenuhi selera pasar yang dinamis. Produk aksesori emas perak dan lainnya misalnya, merupakan komoditi unggulan yang bisa diandalkan di pasar ekspor. Dengan inovasi desain dan motif, daya tarik para buyer dari sejumlah negara tujuan ekspor diharapkan meningkat. Sasarannya, pesanan bertambah dan produktivitas UMKM di bidang kerajinan perhiasan emas dan perak Bali juga makin menggeliat.

Demikian antara lain diungkapkan owner Wirata Jewellry, Kadek Ariana menyikapi tantangan persaingan global yang makin ketat pada 2017 ini. Sebelumnya, pelaku UMKM di bidang produksi kain rajutan, Ida Ayu Kartika menyampaikan SDM yang mumpuni memberi dampak luas terhadap peningkatan daya saing produk di pasar ekspor. Di sisi manajemen misalnya, produsen kain tradisional akan mampu mengatur produksi dengan mengoptimalkan pemanfaatan material bermutu. Ditopang inovasi desain dan motif yang beragam dan bermutu, upaya meningkatkan kepercayaan pasar dapat dilakukan secara optimal. Demikian halnya dengan produk kain rajutan seperti endek dan songket. Karena merupakan produk buah tangan, kekhasannya akan tetap terjaga. Inilah keunggulan bersaing yang dimiliki pemotif Bali di pasar ekspor. “Untuk menghasilkan karya kain endek, songket, dan lainnya yang berkualitas, semua itu bertumpu pada SDM yakni pemotif yang mumpuni,” ujar desainer kain endek dan songket Sidemen Karangasem ini.

Data  Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menyebutkan, Bali menghasilkan devisa 1,34 juta dolar AS dari ekspor barang-barang rajutan selama Oktober 2017 atau naik 71.398 dolar AS atau 5,62 persen dibandingkan bulan sebelumnya (September 2017) yang tercatat  1,27 juta dolar AS.

Dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, perolehan devisa itu meningkat 188.660 dolar AS atau 16,35 persen, karena Oktober 2016 pengiriman barang-barang rajutan itu hanya menghasilkan 1,15 juta dolar AS. (gun)