Catatan Akhir Tahun 2017  Diterjang Ekonomi Lesu, Koperasi pun tetap Eksis

95

Tahun 2017 kondisi perekonomian mengalami kelesuan. Kelesuan ini tak hanya di Bali, tetapi dirasakan di seluruh dunia. Terbukti, kegiatan ekspor aneka produk kerajinan Bali melesu sejak belasan tahun lalu. Namun melorotnya ekonomi tidak berdampak dahsyat pada koperasi dan UMKM. Pada 2017 ini, koperasi justru mampu mendorong ekonomi global. ‎ Lantas seperti apa kondisi pelaku usaha unit kerja koperasi dan UMKM? 

GAMBARAN ekonomi setahun ini memang lagi bermasalah, apalagi pascatragedi Gunung Agung sejak dua bulan lalu. Ekonomi langsung merayap, akibat kunjungan wisatawan mancanegara turun drastis. Dampaknya dirasakan hampir semua pelaku usaha, termasuk koperasi dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tetapi tidak separah usaha sejenis milik perorangan. Koperasi memiliki pasar yang jelas yakni anggota sehingga koperasi yang didukung anggota dipastikan kinerjanya lancar.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Patra, S.H., M.H., yang didampingi Kabid Bina Kelembagaan Koperasi, I Gede Indra, S.E.,M.M. menyatakan sangat bersyukur koperasi dan UMKM di Bali belum ada yang bermasalah akibat melesunya ekonomi belakangan ini. Adanya beberapa koperasi yang bermasalah, katanya, murni karena kesalahan pengurus selaku pengelola koperasi. Koperasi simpan pinjam (KSP) yang melayani anggota tanpa mengedepankan prinsip kehati-hatian akan mengalami bermasalah.

”Kalau dampak kelesuan ekonomi memang tidak besar. Walaupun ada, dipastikan kecil. Koperasi terus berkembang, sedangkan pelaku usaha mikro dan kecil juga sama, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi,” tegas Dewa Patra sambil mencontohkan tahun 2017 ini, para pelaku usaha sangat gesit melakukan terobosan pemasaran, seperti aktif ikut sebagai peserta pameran. Karena melakukan promosi, pelanggan pun makin banyak dan pendapatan mereka akan terus meningkat.

Dengan melakukan pemasaran maksimal, lanjut Dewa Patra, baik koperasi yang memiliki unit usaha dan UMKM akan terus berkembang. Bukan hanya pasar ekspor yang memiliki peluang besar, pasar lokal juga sangat prospektif. Usaha kuliner tahun 2017 ini sangat digandrungi. Terbukti belakangan ini bermunculan kuliner di mana-mana. Pemerintah pun terus mendorong munculnya kuliner yang khas, tetapi waktu zaman dahulu pernah poluper. ”Kalau saja saat ini ada yang mampu menggali potensi khas budaya Bali, pemerintah akan memfasilitasi dan memperkenalkan kembali kepada masyarakat umum. Sekarang ini sangat banyak even atau pameran. UMKM pun mudah melakukan promosi,” terangnya sambil menyebut pertumbuhan jumlah UMKM di Bali cukup banyak. Dari data sebelumnya, ada sekitar 260.000 UMKM, sekarang mencapai angka di atas 300.000 UMKM. Jumlah koperasi, dari sebelumnya 4.800-an, saat ini sudah 4.975 koperasi. (sta)